loading...

Monday, 29 August 2016

Fakta di Balik Hilangnya Tujuh Kata Dalam Piagam Jakarta

Untuk membuat artikel ini, saya terlebih dahulu mendatangi sebuah gedung di kawasan Pejambon, Jakarta Pusat. Karena di gedung yang dibangun pada awal abad ke-20 inilah, tempat bersidangnya para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pada masa kolonial Belanda gedung yang hingga kini masih tampak antik dan anggun itu, bernama Gedung Volksraad. Tempat para 'wakil rakyat' yang diangkat oleh pemerintah jajahan mengadakan sidang-sidang.

Sampai awal 1970'an gedung ini masih ditempati Departemen Kehakiman. Kemudian dijadikan sebagai gedung BP-7 yang sejak reformasi dibubarkan.

Gedung yang terletak bersebelahan dengan Deplu, dahulunya bersama-sama dengan gedung di kawasan Pejambon lainnya merupakan tanah pertanian milik Anthony Chastelin, yang juga memiliki tanah serupa di Depok. Bahkan, anggota Dewan VOC yang kaya raya inilah yang membangun Depok, ketika ia menghibahkan tanah miliknya itu kepada ratusan budak dengan syarat mereka harus mengubah agamanya menjadi Kristen Protestan.

Ketika 55 tahun lalu PPKI di bawah pimpinan Bung Karno bersidang di sini, di sekitarnya masih terdapat sebuah taman yang dikenal dengan sebutan Hertogpark atau Taman Bangsawan. Menunjukkan tempat ini sejak lama merupakan daerah elite. Di gedung inilah pada 22 Juni 1945 lahir Piagam Jakarta. Tanggal tersebut tiap tahun diperingati dengan meriah oleh warga Jakarta.

Tapi, bukan untuk memperingati lahirnya Piagam Jakarta, melainkan HUT Kota Jakarta. Karena pada 22 Juni 1527, Fatahillah, seorang pejuang dan mubaligh yang diutus oleh Sultan Demak, berhasil menaklukkan armada-armada Portugis di Sunda Kelapa.

Sedangkan lahirnya Piagam Jakarta, sejauh ini baru diperingati satu kali, yakni pada 1963. Dalam pidatonya Menhankam/KSAB Jenderal Nasution mengungkapkan waktu itu ada 52 ribu pucuk surat dari ulama dan tokoh Islam seluruh Indonesia yang isinya berupa saran tentang dasar-dasar negara yang mesti diperjuangkan. (KH Firdaus AN: Dosa-dosa Politik Orde Lama dan Orde Baru).

Membentuk Dasar Negara

Untuk lebih memperjelas tulisan ini, sebaiknya kita kembali dulu pada saat-saat menjelang bertekuk lututnya balatentara Dai Nippon dari sekutu. Sebelum bom atom dijatuhkan ke Hiroshima (6-8-1945) dan Nagasaki (9-8-1945), di Jakarta para pemimpin bangsa telah bersiap-siap untuk menyongsong kemerdekaan. Untuk itu dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang beranggotakan 62 orang, diketuai Dr Radjiman Wediodiningrat.

Dalam salah satu pidato pembukaannya pada 29 Mei 1945, Dr Radjiman dalam pidato singkatnya bertanya kepada para anggota: "Negara yang akan kita bentuk ini apa dasarnya?" Sejak saat itu terdapat dua kubu yang berbeda tajam. Yakni, kubu Islam yang menghendaki dibentuknya Negara Islam dan kubu nasionalis yang menghendaki negara bebas dari pengaruh agama.

Sidang yang berlangsung pada 1 Juni 1945 berhasil mencapai kompromi antara kedua kubu yang saling berlawanan itu. Setelah pidato Bung Karno selama satu jam, Dr Radjiman membentuk panitia kecil yang terdiri dari semua aliran. Panitia kecil ini kemudian menunjuk sembilan orang yang akan merumuskan pidato Bung Karno itu sebagai kompromi antara kedua kubu yang bertentangan.

Rumusan kompromi ini mereka namakan Piagam Jakarta yang kita kenal sekarang ini. Piagam Jakarta ini ditandatangani sembilan orang. Mereka mencerminkan aliran-aliran Islam, Nasionalis dan Kristen.

Sembilan orang yang menandatangani Piagam Jakarta merupakan para tokoh masyarakat terkemuka waktu itu. Mereka adalah Ir Soekarno, Drs Muhammad Hatta, Mr AA Maramis (tokoh Kristen waktu itu), Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Moezakir, H Agus Salim, Mr Achmad Subardjo, KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur dan putra pendiri NU KH Hasyim Ashari), dan Mr Muhammad Yamin.

Yang menyebabkan kubu Islam mengendurkan tuntutannya atas negara Islam adalah kalimat-kalimat dalam alinea empat pada pembukaan UUD 45 yang berbunyi: ".....dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya."

Sejumlah ahli hukum dan intelektual waktu itu memberikan penghargaan yang tinggi terhadap Piagam Jakarta ini. Prof Dr Soepomo menyatakan, Piagam Jakarta merupakan "Perjanjian Luhur". Dr Sukiman menyebutnya "Gentlemen Agreement" dan Mr Muhammad Yamin menamakan "Jakarta Charter". Sedangkan Prof Dr Drs Notonagoro SH menjulukinya: "Suatu perjanjian moril yang sangat luhur".

Sayangnya, Piagam Jakarta tidak berumur panjang. Hanya 56 hari saja. Karena, sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI (18 Agustus 45), piagam ini dicoret oleh mereka yang kurang menghayati isi dan makna perjanjian itu. (KH Firdaus AN: Dosa-dosa Politik Orla dan Orba).

Indonesia Timur Ancam Memisahkan diri dari NKRI

Peristiwanya dimulai ketika pada tanggal 17 Agustus 1945 sore, belum genap 12 jam proklamasi dikumandangkan, datang telepon dari seorang Jepang, pembantu Laksamana Maeda yang ingin menemui Bung Hatta. Ternyata orang Jepang ini menyampaikan pesan seorang Nasrani dari Indonesia Timur.

Tokoh Nasrani itu keberatan dengan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Kalau kata-kata ini masih tercantum kaum Nasrani di Indonesia bagian Timur akan keluar dari RI. Padahal, esok harinya akan ada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk memilih presiden dan wakil presiden dan mensahkan UUD yang rampung disusun BPUPKI.

Sampai 1984 masih misterius dan tidak ada satu buku pun di Indonesia yang menjelaskan siapa gerangan yang memberi ultimatum (melalui Jepang) itu. Barulah setelah Cornell University di Amerika Serikat menerbitkan sebuah buku tentang Indonesia disebutkan bahwa tokoh itu ialah Dr Sam Ratulangi.

Kasman Singodimedjo, dalam memoarnya menyambut 75 tahun usianya menyatakan: "Ia yang baru diangkat sebagai anggota PPKI mendapat panggilan dari Bung Karno selaku ketuanya agar hadir di pertemuan tersebut."

"Waktu saya tiba di Pejambon, terbukti masih sedang ramainya diadakan lobbying di antara anggota-anggota panitia. Dan tidaklah sulit bagi saya untuk segera mengetahui apakah yang sedang jadi persoalan serius itu."

Kubu Islam Kalah karena Terjepit

Menurut tokoh Masyumi yang pernah ditahan di masa pemerintahan Bung Karno, pengusul yang menginginkan agar tujuh kalimat dalam Piagam Jakarta dihilangkan adalah mereka yang mengambil kesempatan dari keadaan psikologis waktu itu. Karena baru sehari proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, maka diperlukan kekompakan dan persatupaduan dari seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali.

Apalagi, waktu itu dikhawatirkan kita akan menghadapi tentara Sekutu di mana Belanda merupakan anggotanya. Sementara balatentara Jepang masih berkeliaran di mana-mana dengan senjata lengkap.

Sekalipun demikian, menurut Kasman, pihak Islam tidak mau begitu saja usul dari non-Muslim. Bung Karno sendiri saat-saat lobby sengaja tidak mau ikut bahkan menjauhkan diri dari ketegangan dan kesengitan. Mungkin karena beliau sebagai ketua panitia dan terutama sebagai peserta panitia sembilan merasa agak kagok untuk menghadapi Ki Bagus Hadikusumo dan kawan-kawannya. Karenanya, ia hanya mengirimkan putra Aceh, Tengku
Muhammad Hasan ke gelanggang lobby.

"Saya pun di dalam lobbying itu ingin sekali mempertahankan Piagam Jakarta sebagai unit secara keseluruhan tanpa pencoretan tujuh kata. Tapi, saya pun tidak dapat memungkiri apalagi menghilangkan adanya situasi darurat dan terjepit sekali," kata Kasman Singodimedjo.

Menurut Kasman, "Jepitan itulah yang membuat kelompok Islam tidak dapat ngotot. Meskipun begitu Ki Bagus dkk dibantu terutama oleh amandemen Bung Hatta masih berusaha juga di dalam lobbying. Dan akhirnya berhasil juga dalam sidang formal PPKI dengan pencoretan 7 kalimat itu minus "ke-Tuhanan", yang diubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa."

Ki Bagus Hadikusumo

Ada yang mempertanyakan kenapa ketika itu kaum Nasionalis menggarap Ki Bagus Hadikusumo, padahal ia bukan penandatangan Piagam Jakarta. Menurut Firdaus AN, karena ia seorang moderat. Tidak seberat tokoh-tokoh lainnya seperti H Agus Salim, Abikusno, A Kahar Muzakar dan Mohammad Yamin.

Akan tetapi, menurut Kasman, Ki Bagus yang ketika itu menjawab sebagai ketua umum PP Muhammadiyah sebenarnya ingin mempertahankan Piagam Jakarta. Tapi, tokoh ini baru mau melepas keinginannya itu, setelah oleh Kasman dijelaskan mengenai situasi negara waktu itu --yang memerlukan kesatuan dan persatuan bangsa.

Tapi, Firdaus AN, yang sejak mudanya pernah duduk dalam pimpinan berbagai ormas Islam seperti PII, GPII dan PSII, mempertanyakan apakah kesediaan tokoh-tokoh Islam dalam pencoretan Piagam Jakarta menunjukkan toleransi atau kapitulasi. Yang jelas, menurutnya hal itu punya dampak luas bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Seperti timbulnya pemberontakan di daerah-daerah. Dimulai dengan DI/TII pimpinan Kartosuwirjo di Jawa Barat (7 Agustus 1949), Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan (1952), Daud Beureuh di Aceh (1953), dan Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan (1953).

Friday, 19 August 2016

Teladan Dari Seorang Bapak Proklamator RI

Teladan sejati, Wapres Mohammad Hatta dulu berhaji pakai biaya sendiriHatta tak minta fasilitas negara.


Menjadi Wakil Presiden pertama Indonesia, ternyata Mohammad Hatta memiliki kisah sendiri yang sepatutnya dicontoh oleh para pemimpin Indonesia saat ini. Sebagai orang nomor dua di Indonesia tentu banyak fasilitas melekat padanya dan bisa dimanfaatkan. Namun hal ini tidak dilakukan oleh Hatta.

Dilansir brilio.net dari Antara, Selasa (16/8), pada 16 Agustus 1952 pemerintah Indonesia mengeluarkan izin kepada Hatta untuk menunaikan ibadah Haji dan akan berangkat pada 20 Agustus 1952.

Saat itu kepergian Hatta berhaji memang menjadi keinginannya sendiri dan semuanya dilakukan dengan biaya sendiri tanpa meminta fasilitas negara.

Namun karena kedudukannya sebagai wakil presiden, pemerintah Indonesia saat itu tetap menunjuk beberapa pengawal yang akan mengiringi Hatta saat beribadah.


Walaupun begitu Sekretariat Dewan Menteri menegaskan bahwa kunjungan tersebut  sama sekali tidak mempunyai sifat politis.

Sunday, 26 June 2016

Ini Kedahsyatan Membaca Surah Yasin

Surat Yasin banyak menjelaskan tentang akidah dan keimanan seorang muslim. Keutamaan surat ini adalah ampunan yang diberikan Allah SWT bagi orang yang senantiasa membacanya untuk mendapatkan ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda,

"Barang siapa membaca surat Yasin setiap malam karena Allah SWT, maka dosanya diampuni". (HR Ahmad).

Di dalam buku Kedahsyatan Membaca Alquran, karya Amirulloh Syarbini, apabila seseorang membaca surat Yasin untuk menghadapi permasalahan yang sangat sulit, maka Allah akan memberi kelancaran padanya.

Jika surat Yasin dibacakan pada orang yang akan meninggal dunia (sakaratul maut), dapat mempermudahkan keluarnya roh dari orang yang mengalami sakaratul maut. Dan bila dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, maka dia akan mengundang rahmat dari Allah dan berkah dari-Nya.

Surat Yasin diturunkan di kota Makkah sesudah diturunkannya surat Jin. Surat Yasin merupakan jantungnya Alquran. Rasulullah SAW bersabda

"Jantung Alquran itu ialah surat Yasin. Tidaklah dibaca akan dia oleh seseorang yang menghendaki keridhaan Allah dan keselamatan di hari akhirat, melainkan Allah mengampuni akan dosanya" (HR Abu Daud).

Selain itu, surat Yasin diyakini mengandung banyak keutamaan, seperti sabda Rasulullah SAW, "Setiap sesuatu mempunyai hati. Adapun hari Alquran adalah Yasin. Maka barang siapa yang membaca Yasin, maka Allah menulis baginya (pahala) membaca Alquran 10 kali, selain Yasin". (HR Tirmidzi).

Pada buku Tafsir Surat Yasin, karya Syaikh Khamami Zadah, surat Yasin termasuk surat Makiyah, sebab turunnya surat ini orang-orang kafir berkata: "Sungguh, Muhammad bukanlah Nabi dan bukan pula Rasul, namun dia hanyalah anak yatim dari Abu Thalib. Dia tidak pernah pergi ke suatu tempat belajar dan tidak pula mempelajari ilmu pengetahuan dari seorang guru. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi Nabi?". Allah SWT menolak perkataan orang-orang kafir tersebut, kemudian menurunkan surat Yasin, dan bersaksi dengan Dzat-Nya yang Maha agung terhadap kerasulan dan kenabian Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, "Wahai Muhammad, jika orang-orang kafir ingkar terhadap kerasulanmu, maka kamu jangan bersedih karena hal itu. Aku sendiri bersaksi bahwa engkau sungguh-sungguh termasuk golongan para rasul".

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Perbanyaklah membaca surat ini (Yasin), karena di dalamnya terdapat banyak keistimewaan".

Pada suatu ketika, terdapat seseorang yang lapar, dan orang tersebut membaca surat Yasin. Allah SWT pun menurunkan anugerah-Nya dengan mengenyangkan orang tersebut. Apabila seseorang sedang mengalami ketakutan, maka Allah akan menghilangkan rasa kekhawatiran akan ketakutannya usai membaca surat Yasin. Selain itu apabila seseorang yang sedang terlilit utang membaca surat Yasin, maka Allah akan menyelamatkan dia dari segala utang-utangnya.

Keutamaan-keutamaan surat Yasin antara lain:

1. Sesungguhnya Allah SWT membaca surat Taha dan surat Yasin sebelum menciptakan Nabi Adam 2000 tahun. Ketika itu, para malaikat mendengarkan Alquran dan para malaikat berkata alangkah bahagianya suatu umat yang diturunkan kepada mereka surat ini.

2. Apabila seseorang datang untuk berziarah kemudian membaca surat Yasin, maka seseorang yang telah meninggal tersebut akan diringankan azabnya. Orang yang membaca surat Yasin akan mendapatkan pahala.

3. Surat Yasin adalah jantung Alquran, apabila seseorang membaca surat Yasin maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti mengkhatamkan Alquran sepuluh kali.

4. Jika seseorang membaca surat Yasin dengan tujuan mendapatkan pahala dari Allah SWT maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Membaca surat Yasin pada tengah hari, maka semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, "Lazimkan olehmu membaca surat Yasin, maka di dalamnya ada dua puluh berkat. Jikalau yang membaca orang lapar maka ia akan dikenyangkan. Jikalau yang membaca orang telanjang (orang tak mampu membeli pakaian) maka ia akan dikaruniai pakaian. Bila ia bujang maka ia akan cepat jodohnya. Bila ia takut, ia akan diberi keamanan. Bila ia sakit maka ia akan diberi kesembuhan" (HR Ali bin Abi Thalib)

Friday, 24 June 2016

Menjemput Malam Lailatul Qadar

SUBHANALLAH, seorang mukmin yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya pasti sangat merindukan Lailatul Qadar. Karena malam itu teramat istimewa, malam dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan, khoirun min alfi syahrin; malam turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril atas izin-Nya,tanazzalul Malaaikatu warruuhu; malam penuh kedamaian hingga terbit fajar, salaamun hiya hatta mathla’il fajri.

Malam ini sungguh tidak ternafikan sebagai malam yang sangat terasa nikmat. Apalagi jika menikmatinya dengan beriktikaf di masjid. Tercecaplah puncak kedekatan diri dengan Allah, sehingga air mata pun tidak terbendung lagi. Surah Al-Qodar [97] turun karena menunjukkan keistimewaan malam yang terjadinya pada Asyrul Awaakhir, 10 akhir Ramadhan ini.

Adapun untuk mengenali malam indah ini, Rasul SAW bersabda, ”Malam Lailatul Qadar bersih, tidak sejuk, tidak panas, tidak berawan padanya, tidak hujan, tidak ada angin, tidak bersinar bintang dan daripada alamat siangnya terbit matahari dan tiada cahaya padanya (suram).” (HR Muslim).

Berikut ini kiat untuk menjemputnya.

Pertama, benar-benar bersemangat untuk meraihnya diawali dengan meluruskan niat semata ingin ridha Allah SWT. ”Barang siapa melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan didasari keimanan dan harapan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, bermujahadah dalam ibadah, Sungguh, Rasul tercinta pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bermujahadah melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya. (HR Muslim). Seperti berpuasa dengan tanpa maksiat, membaca Alquran dengan pemahaman dan penghayatan dan menunaikan shalat Tarawih tanpa putus dan dengan tumaninah.

Ketiga, melaksanakan kewajiban Syariat Allah, seperti zakat maal bagi hartawan, jika wanita taatlah dengan berjlibab.

Keempat, beriktikaf di masjid. Abu Said menceritakan tentang iktikaf Rasulullah di masjid yang ketika itu berlantaikan tanah dan tergenang air. “Aku melihat pada kening Rasulullah ada bekas lumpur pada pagi hari Ramadhan.” (HR Muslim).

Kelima, dengan selalu terjaga dalam kekhusyukan ibadah, tidak banyak tidur dan ngobrol. Justru memburai air mata yang mengalir tak terbendung karena rindu perjumpaan dengan-Nya, takut murka-Nya dan karena merasa banyak dosa.

Keenam, berazam dan bersumpah untuk taubatan nashuha; tidak kembali maksiat dan tidak akan menzalimi dan menyakiti siapapun lagi.

Ketujuh, wajib minta maaf kepada siapa pun termasuk kepada keluarga atau sahabat yang pernah ia sakiti. Karena jika tidak, akan menjadi hijab (penghalang) bagi doa dan ibadahnya.

Kedelapan, tiada waktu berlalu sia-sia kecuali banyak berzikir, istighfar, shalawat, wudhu terjaga dan kesenangan bersedekah.

Kesembilan, berdoalah sungguh sungguh, yakin penuh harap.

“Wahai Rasulullah,” tanya Aisyah, “Bagaimana menurutmu andai aku mendapatkan Lailatul Qadar? Doa apa saja yang harus aku baca?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Mulia, dan Engkau menyukai ampunan. Maka ampunilah aku,” (HR Tirmidzi).

Allahu Akbar, akankah kita yang meraihnya? Kepastiannya hanya milik Allah. Tapi, teruslah meniti jalan ketaatan kepada-Nya. Karena boleh jadi kita adalah di antaranya. Jika setelah malam indah itu berlalu kita adalah yang semakin kuat akidahnya, semakin rajin dan menikmati ibadahnya, akhlak yang semakin mulia.

Dalam halihyaaus sunnah (menghidupkan amal sunnah) kita semakin bersemangat, kepada keluarga dan umat manusia selalu berkasih sayang, ketakwaan kita semakin tampak dan dirasakan oleh diri, keluarga dan sahabat kita, dan air mata kita mudah meleleh karenaliqoouhu, kerinduan berjumpa dengan-Nya. Jika ya, boleh jadi kita adalah yang telah berhasil meraihnya.

Allahumma ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami dari mulai akil baligh hingga waktu Engkau wafatkan kami, terimalah amal ibadah kami, tobat kami, berkahi sisa-sisa umur kami dalam aktivitas Syariat dan Sunnah Nabi-Mu, berilah pada kami keistimewaan Lailatul Qodar, dan wafatkan kami semua husnul khootimah. Aamiin.

Saturday, 11 June 2016

Ulama Abul Hasan Ali An Nadwi, Ketika Wafatnya, Dua Masjid di Dua Kota Suci Mensholatkannya


Syeikh Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi merupakan seorang ulama dan pemikir Islam yang ulung. Beliau dilahirkan pada 6 Muharram 1333H / 23 November 1914M di Takia Kala, Rae Berily, India. Nama asli beliau ialah Ali bin Abdul Hayy bin Fakhruddin bin Abdul Aliy al-Hasani. Nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abi Talib r.a. Beliau amat beruntung karena dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang amat berpegang teguh dengan ajaran Islam. Ayahnya Sayyid Abdul Hayy adalah seorang ulama di India dan ibunya juga seorang pendidik dan penghapal  al Quran serta syair-syair sejarah Islam dalam bahasa Urdu.

Dilahirkan dalam keluarga yang mementingkan ilmu, tidak heranlah minat membaca beliau terbentuk  sejak kecil . Beliau gemar mengkoleksi  kitab dan mempunyai perpustakaan  sendiri yang dinamakan sebagai Maktabah Abil Hasan Ali (Perpustakaan Abul Hasan Ali).

Sejak kecil juga Syeikh Abul Hasan telah didik dengan berbagai  ilmu pengetahuan meliputi bahasa Arab, nahu, syair, sastera Arab, tafsir, fiqh, hadis dan sebagainya. Banyak  kalangan gurunya datang dari India dan ada juga di antara mereka yang datang dari Madinah. Pada awalnya, beliau hanya belajar di rumah dan di madrasah Nadwatul Ulama. Setelah itu beliau melangkah keperingkat yang lebih tinggi di Universiti Lucknow dan di kampus ini  beliau berhasil mendapatkan nilai tertinggi dalam bidang Bahasa Arab. Kemudian beliau meneruskan lagi pengembaraan ilmunya hingga membawa beliau ke Lahore. Di sinilah dia bertemu dengan seorang sarjana dan pemikir  dunia Islam yaitu Dr. Muhammad Iqbal. Kekaguman beliau dengan karya-karya Iqbal mendorong beliau untuk menterjemahkan beberapa syair Iqbal dari Bahasa Urdu kepada Bahasa Arab, walaupun usianya pada ketika itu hanya sekitar 15 tahun saja.

Sifat Pribadi

Pribadi Syeikh Abul Hasan sangat sederhana, zuhud, berlapang dada serta terpancar keikhlasan dakwahnya sehingga membuatkan beliau disukai dalam pergaulan.

Beliau adalah seorang yang berpribadi zuhud dan tidak membedakan antara manusia dalam dakwahnya,  membuatkan ulama terkenal Mesir, Dr Yusuf al-Qaradhawi pun mengkagumi kepribadian beliau.

Dr Yusuf al-Qaradhawi berkata: “Saya mengenali kepribadiannya dan juga karya-karyanya. Saya mendapati pada dirinya hati seorang muslim yang sejati dan pemikiran Islam yang asli. Saya mendapati beliau sentiasa hidup dengan Islam dan untuk Islam. Saya kira bukan saya saja yang mencintainya tetapi semua orang yang mengenalinya pasti mencintainya, bahkan siapa saja yang lebih mengenalinya pasti akan bertambah kecintaan terhadapnya.”

Dakwah dan Pendiriannya

Mencontohi pendekatan dakwah ulama’-ulama’ terdahulu seperti Imam As Sirhindi r.a dan Maulana Ilyas r.a, serta beberapa tokoh Islam , Syeikh Abul Hasan telah membawa suatu manhaj dakwah dan tarbiyah yang menyeluruh, dengan menggabung  beberapa manhaj dan pendekatan, menjadi suatu kombinasi di antara gerakan Islam lama yang berkah dengan sistem aplikasi yang bermanfaat. Menurut beliau, kefahaman terhadap dasar-dasar dakwah akan menjadikan seorang dai  benar-benar berdakwah untuk Allah bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya atau lainnya. Prinsip yang perlu ada ialah berdakwah untuk kebaikan umat seluruhnya bukan untuk keuntungan kelompok atau diri sendiri. Dasar-dasar yang digariskan beliau dalam melaksanakan dakwah itu merupakan himpunan prinsip  dasar “At Tasallub Fi Al Usul” iaitu tegas pada prinsip dan “Al Murunah Fi Al Wasail” yakni aplikasi  dalam pelaksanaan.

Usaha gigih Syeikh Abul Hasan dalam menyampaikan kalimat haq bukan sahaja dikagumi oleh dunia Islam malah mendapat penghormatan  dari masyarakat Barat khususnya di Eropa. Banyak undangan ceramah dan seminar yang beliau terima dari institusi-institusi terkemuka di Eropa seperti di Geneva, Paris, Cambridge, Oxford, Glasgow, Edinburgh dan Spanyol. Rata-rata dikalangan pendakwah dan mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, baik di Timur maupun di Barat mengenali tokoh ini. Malah adakalanya walaupun tidak berkesempatan mengenali pribadi beliau secara langsung tetapi apabila kita membaca hasil-hasil karyanya kita akan merasakan seolah-olah beliau adalah guru kita yang duduk bersama-sama kita.

An-Nadwi juga begitu peka dengan sistem pendidikan dan banyak mengkritik golongan orientalis yang menyelewengkan fakta mengenai Islam. Dari segi faktor keagamaan, tujuan orientalis adalah menyebarkan agama Kristian dan mencoba memaparkan  keunggulannya dibanding  agama Islam. Di samping itu, mereka coba membangkitkan rasa bangga terhadap kepercayaan mereka ke dalam jiwa anak-anak muda Islam. Dari segi politik, golongan orientalis adalah utusan barat ke negara-negara Islam dengan tujuan membuat penyelidikan yang berhubung dengan adat, bahasa, tabiat dan jiwa orang-orang timur. Melalui cara ini, barat dapat meluaskan kekuasaan dan pengaruhnya ke atas umat Islam. Walaupun begitu, ada juga golongan orientalis yang membuat penyelidikan semata-mata kerana rasa minat mereka terhadap ilmu.

Tujuan orientalis  hanya ingin mencari kelemahan tentang Islam dan mengemukakannya untuk maksud politik maupun keagamaan.

Menurut an-Nadwi, umat Islam sekarang menghadapi kejumudan pemikiran atau mengendapnya kecerdasan akal yang menimpa sarjana Islam atau pusat-pusat pengkajian Islam. Begitu juga, jarang ditemui ulama yang dapat meyakinkan generasi muda mengenai keunggulan Islam dan keabadian ajaran agama dalam menjalani  kehidupan serta menyingkap takbir kelemahan-kelemahan peradaban barat..

Beliau turut menggariskan beberapa faktor yang menyebabkan kefahaman ini dapat menawan jiwa orang-orang Islam. Antaranya ialah  kelemahan orang Islam dari sudut keimanan, ijtihad dan ilmu pengetahuan. Fikiran menjadi sempit dan keghairahan terhadap agama mereka telah lenyap sama sekali. Dan  para ulama tidak memainkan peranan yang sebenarnya dan tidak pula berusaha untuk memimpin orang Islam lain terutama anak-anak muda Islam. Serta penjajahan yang berlaku ke atas negara-negara umat Islam. Bahkan sebagian orang-orang Islam mengkagumi falsafah barat yang dianggap mengandungi kebenaran dan kemajuan.

An-Nadwi berpendapat bahawa jalan yang paling selamat dalam mendidik umat Islam ialah kembali beriman kepada Alllah sebagaimana Rasulullah dahulu telah melaksanakannya . Kemungkaran dan kerusakan adalah berawal  dari keengganan manusia untuk kembali kepada  nubuwwah. Hanya dengan kembali kepada bentuk didikan awal saja,  manusia masa kini dapat diselamatkan sebagaimana manusia pada zaman dahulu diselamatkan oleh Rasulullah. Oleh itu, beliau menyarankan umat Islam kembali kepada madrasah kerasulan.

An-Nadwi menggunakan manhaj dakwah dengan berdasarkan  kepada al-Quran kemudian hadith dan sirah serta kisah-kisah para sahabat. Ini jelas terbukti dalam bukunya Rawa’i min adab al-da’wah yang mana beliau mengambil contoh-contoh dakwah para nabi-nabi yang bersumberan al-Quran dan al-Hadith.Di samping itu, beliau mengakui manhaj itu mungkin berbeda dari satu tempat dari satu tempat yang lain karena dakwah harus juga melihat kondisi lingkungan. Oleh karena itu, dakwah yang berkesan ialah dakwah yang menyentuh  realita yang ada. Al-Nadwi juga menyarankan memahami al-Quran dengan mendalam, sejarah dakwah dan tokoh-tokoh dakwah serta adab-adab Islam.

Sebuah Karya Yang Membuka Mata Dunia

Siapa yang tidak terkesan bila mana membaca karya agung beliau yang berjudul “Apakah Kerugian Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam” yang pernah pada suatu ketika menggoncang hati para pemimpin dan ulama’ di dunia Arab. Hingga sekarang karya yang berusia lebih 50 tahun itu, tetap menjadi rujukan umat seluruh dunia malah telah diterbitkan dalam berbagai-bagai bahasa seperti Inggeris, Parsi, Urdu, Arab, Hindi, bahasa Indonesia dan lain-lain. Beliau telah berhasil membuka pandangan sempit pemimpin dunia Islam yang menganggap bahwa kekayaan material yang dimiliki oleh masyarakat Eropa adalah segala-galanya sedangkan mereka di sana telah bankrut dari segi pemikiran dan kerohanian. Dengan pandangannya yang tajam, Syeikh Abul Hasan an-Nadwi berhasil membawa suatu pemikiran yang berguna untuk mengeluarkan umat manusia daripada kungkungan hidup jahiliyah modern kepada naungan Islam . Sebagaimana yang beliau nukilkan bahwa hanya umat Islam saja yang layak untuk  mengatur dunia ini, tanpa Islam dunia akan menghadapi penderitaan dan kerugian walaupun manusia memiliki segala kecanggihan dan kemudahan hidup.

Dijemput Ilahi

Setelah hampir seluruh usianya dihabiskan dengan perjalanan ilmu dan dakwah, menyeru umat Islam agar kembali teguh kepada al-Quran dan sunnah, maka pada tengah hari Jum’at, 23 Ramadhan 1420H / 31 Disember 1999M, beliau telah dijemput Allah SWT pulang ke sisiNya ketika sedang bersiap-siap untuk menghadiri solat Jum’at di kediamannya, ketika usianya mencapai 85 tahun. Mengenang jasa beliau yang telah dicurahkan untuk kepentingan agama, maka telah diadakan solat jenazah ghaib di dua tanah suci yaitu di Masjidil Haram di Makkah al Mukarramah dan di Masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah pada malam 27 Ramadhan 1420H.

Kepergiannya dirasakan sebagai suatu kehilangan permata yang amat berharga. Perjuangan dakwahnya yang tidak mengenal noda itu, seharusnya menjadi contoh oleh generasi kini. Beliau pernah berpesan kepada generasi muda bahawa para pemuda  Islam yang bakal memimpin umat pada masa akan datang sangat perlu diisi dengan ilmu, tazkiyah ruhiyah, semangat juang dan sifat zuhud dari dunia. Kalau tidak, akan diombang ambing dan akan dipecundangi dalam menghadapi ujian  akhir zaman. Kepiawaian  lidah dalam berucap dan keluasan ilmu belum dapat memberi kesan yang terbaik kalau tidak disertai dengan kekuatan rohani yang mantap.

Selamat jalan wahai mujahid. Semoga Allah SWT mencucuri rahmat yang luas ke atasmu dan semoga engkau bersama-sama dengan para anbiya’, auliya’ dan para kekasih Allah. Amin.

Saturday, 30 April 2016

Shalat

Shalat sangat penting bagi setiap Muslim. Shalat merupakan tiang agama. Dengan shalat, menjadi pembeda antara kita dengan non Muslim.

TERKADANG terlintas dalam benak kita, kenapa kita harus shalat? Apa yang akan kita dapatkan dari shalat? Padahal, shalat hanya gerakan-gerakan sederhana, yang kita lakukan pada waktu-waktu bersantai. Sehingga waktu istirahat kita terganggu akibat diisi dengan shalat?

Jika hal itu masih ada dalam benak pikiran Anda, maka segera hapuslah. Sebab, shalat bukan hanya perintah dari Allah SWT semata. Shalat memiliki keistimewaan tersendiri bagi kita sebagai seorang Muslim. Dan shalat memiliki urgensi tersendiri bagi kita. Apakah itu?

Shalat itu tiang agama. Siapa yang menunaikan shalat, berarti ia menegakkan agama. Dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti ia meruntuhkan agama.

Bila kita memperhatikan sebuah bangunan, tiang berfungsi sebagai penyangga. Apa jadinya bila bangunan berdiri tanpa penyangga? Pasti ambruk, kan? Apa artinya pula bangunan dengan tiang penyangga yang rapuh? Lama-lama ambruk juga, kan?

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah ﷺ bersabda, “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat,” (HR. At-Tirmidzi).

Shalat juga pembeda keimanan dengan kekufuran. At-Tirmidzi kembali meriwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ikatan janji antara kami (umat Islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkan shalat, berarti ia kafir.”

Adapun Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”

Selain itu, shalat merupakan amalan pokok yang akan dihisab pertama kali. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada seseorang nanti di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya bagus, maka berbahagia dan beruntunglah dia. Namun, jika shalatnya rusak, maka menyesal dan merugilah ia…”

Sebuah perintah ketaatan dari Allah SWT akan menjadi beban bagi yang kurang berilmu. Semakin bertambah ilmunya, beban itu berubah menjadi kewajiban. Kita mengerjakan shalat, layaknya bekerja kepada majikan. Kita khawatir tidak mendapatkan upah dan mendapatkan sanksi bila tidak mengerjakannya. Kita mengerjakannya karena berharap untuk memasuki surga dan takut masuk ke dalam neraka.

Semakin lama, kewajiban itu berubah menjadi kebutuhan. Kita mengerjakan shalat, karena kita membutuhkannya. Kalau belum mengerjakan, serasa ada yang kurang. Dengan shalat, hati menjadi tenang, jiwa menjadi riang dan segenap permasalahan menemukan jalan keluar. Kita pun merasakan bahwa kitalah yang membutuhkan shalat. Andai tiada shalat, tiada kesempatan berkomunikasi dengan Allah SWT, betapa berat menghadapi aneka problematika hidup.

Lebih nikmat lagi, bila mengerjakannya karena rasa syukur dan cinta kepada Allah SWT. Dan kita merindukan saat istimewa itu. Berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana bercengkerama dengan kekasih kita. Rasulullah ﷺ sangat mendalam cintanya kepada Allah. Hingga pernah dalam menunaikan shalat, kakinya menjadi bengkak. Mengapa demikian? Karena beliau berlama-lama dan menemukan kenikmatan luar biasa dalam shalatnya.

Shalat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Selain pembeda antara keimanan dan kekafiran, ia merupakan amalan yang pertama kali dihisab, juga dapat menjadi sarana untuk mengahadapi segala problematika hidup. Hudzaifah berkata, “Kebiasaan nabi ﷺ jika menghadapi kesulitan adalah segera melakukan shalat,” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

10 Seruan Bumi Kepada Manusia

WAHAI manusia, engkau berlari-lari di atas belakangku, tempat kembalimu adalah di dalam perutku.

Engkau melakukan maksiat di atas belakangku, engkau akan disiksa di dalam perutku.

Engkau ketawa diatas belakangku, engkau akan menangis di dalam perutku.

Engkau bergembira di atas belakangku, engkau akan bersedih di dalam perutku.

Engkau mengumpulkan harta di atas belakangku, engkau akan menyesal di dalam perutku

Engkau memakan yang haram di atas belakangku, engkau akan di makan ulat-ulat di dalam perutku.

Engkau sombong di atas belakangku, engkau akan menjadi hina di dalam perutku.

Engkau berjalan dalam keadaan sukacita di atas belakangku, engkau akan jatuh di dalam perutku dalam keadaan dukacita.

Engkau berjalan dalam cahaya yang terang diatas belakangku, engakau akan jatuh ke tempat yang gelap di dalam perutku.

Engkau berjalan di khalayak ramai diatas belakangku, engkau akan menjadi sendirian di dalam perutku. (Anas bin Malik)