3 Kekuatan Mata Hati Manusia
BASHIRAH atau kekuatan mata hati manusia dalam cahaya yang cemerlang dibagi menjadi tiga bagian, apa saja itu?
Pertama, orang yang tidak memiliki bashirah iman sama sekali. Dia hanya melihat kegelapan, guntur, dan kilat. Dia meletakkan dua jarinya di telinganya karena takut kepada suara petir, dan meletakkan tangan di matanya karena takut melihat kilat, khawatir akan membutakan mata. Pandangannya tidak menjangkau apa yang ada di balik itu semua, seperti rahmat dan sebab-sebab kehidupan yang abadi.
Orang seperti kelompok pertama ini adalah orang yang menutup mata terhadap agama. Dia tidak menerima agama Allah SWT yang diturunkan untuk hamba-hamba-Nya meskipun dia telah menyaksikan semua ayat-Nya. Itu karena ia termasuk orang yang telah diputuskan agar sengsara dan celaka. Faedah peringatan (indzaar) bagi orang seperti ini adalah mendirikan hujah atas dirinya, agar dia disiksa dengan dosanya sendiri, bukan semata-mata dengan pengetahuan Allah SWT bahwa dia memang harus menerima siksa.
Kedua, para pemilik bashirah yang lemah, yang pandangan mereka kepada cahaya ini seperti pandangan kelelawar ke bola matahari. Mereka mengikuti nenek moyang mereka. Agamanya adalah agama adat dan lingkungan tempat mereka berada. Mereka inilah yang dimaksud oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dengan ucapannya,
“Atau orang yang tunduk kepada kebenaran, tapi tidak punya bashirah untuk memilih kebenaran itu.”
Jika mereka ini tunduk kepada para pemilik bashirah tanpa ragu sama sekali, maka mereka ada di jalan keselamatan.
Ketiga, yakni intisari alam, manusia istimewa. Mereka adalah para pemilik bashirah tajam yang menyaksikan nur (cahaya) yang terang ini. Mereka punya keyakinan dan bashirah terhadap keindahan dan kesempurnaan nur ini. Seandainya lawan dari nur ini dipaparkan ke akal mereka, pasti mereka melihatnya seperti malam yang gelap gulita, hitam. Inilah inti perbedaan antara mereka dengan kelompok sebelumnya. Orang-orang (dari golongan kedua) itu mengikuti orang yang memimpin dan menemani mereka saja, seperti kata Ali bin Abi Thalib
“Mereka mengikuti setiap suara panggilan, menuruti semua teriakan orang. Mereka tidak bersuluh dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar ke tiang yang kokoh.”
Ini tanda orang yang tidak punya bashirah. Anda lihat dia menyukai sesuatu, juga menyukai lawannya. Dia memuji sesuatu, tapi juga memakinya, jika dibungkus kulit yang tidak dikenalnya. Dia mengagungkan ketaatan kepada Rasul saw. dan memandang pelanggaran ajaran beliau sebagai dosa besar, tapi dia sendiri tergolong orang yang paling membangkang terhadap ajaran tersebut, paling keras memusuhi orang yang mengamalkan sunnahnya. Ini karena dia tidak punya bashirah.
Adapun orang dari kelompok ketiga ini, amal mereka berlandaskan bashirah. Dengan perbedaan bashirah itulah kemuliaan mereka bertingkat-tingkat, seperti kata seorang salaf ketika menyinggung generasi silam, “Itu hanya karena mereka beramal dengan dasar bashirah.” Seseorang tidak pernah mendapat karunia lebih afdhal dari bashirah (pengetahuan yang dalam) tentang agama Allah SWT, meski dia beramal sekedarnya. Allah SWT berfirman,
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishakdan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shaad: 45)
Ibnu Abbas berkata, “(Artinya ulil aydy) adalah punya kekuatan dalam ketaatan kepada Allah SWT, dan (arti ulil abshaar) adalah punya pengetahuan tentang perintah Allah SWT.” Qatadah dan Mujahid berkata, “Mereka diberi kekuatan dalam ibadah dan pandangan yang tajam tentang agama.”
Orang yang paling alim (berilmu) adalah yang paling tahu tentang kebenaran ketika orang-orang lain berbeda pendapat, meski amalannya sederhana saja. Masing-masing dari ketiga kelompok ini punya bagian-bagian lagi yang hanya Allah SWT yang dapat menghitung kadar derajat perbedaannya.
Jika hal ini sudah diketahui, maka kelompok pertama tidak dapat mengambil manfaat dari bab ini, bahkan hanya makin menambahnya sesat saja. Kelompok kedua mengambil faedah sebatas pemahaman dan potensi yang dimilikinya. Sedang kelompok ketiga, untuk merekalah pembahasan ini diungkap. Merekalah ulul albab yang dikhususkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan khithab tanbih dan irsyad. Dan, kepada merekalah sebenarnya tadzkirah ditujukan.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (tadzkirah).” (QS. az-Zumar: 9)
Referensi: Kunci Kebahagiaan/Ibnu Qayyim/Akbar Eka Sarana/2004
loading...
Friday, 1 April 2016
Wanita,Godaan Paling Berat
Wanita, Godaan Paling Berat
ALLAH Ta’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Bahkan Bani Israil pun hancur gara-gara godaan wanita.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)
Lihatlah, betapa wanita menjadi fitnah yang sangat membahayakan bagi para lelaki. Tentunya kita banyak melihat laki-laki yang hancur seketika karena terdorong oleh syahwatnya. Maka tugas seorang laki-laki dalam hal ini adalah menjaga pandangan dan mengendalikan nafsunya. Tentunya ini bukan hanya tugas laki-laki, sudah seharusnya sebgai seorang wanita yang beriman kita pun berusaha menjaga diri agar tidak menggoda para lelaki.
ALLAH Ta’ala berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Allah memulai dengan menyebut wanita sebelum kenikmatan dunia lainnya. Menunjukkan bahwa godaan wanita memang sungguh dahsyat. Bahkan Bani Israil pun hancur gara-gara godaan wanita.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Waspadalah dengan dunia, begitu pula dengan godaan wanita. Karena cobaan yang menimpa Bani Israil pertama kalinya adalah karena sebab godaan wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)
Lihatlah, betapa wanita menjadi fitnah yang sangat membahayakan bagi para lelaki. Tentunya kita banyak melihat laki-laki yang hancur seketika karena terdorong oleh syahwatnya. Maka tugas seorang laki-laki dalam hal ini adalah menjaga pandangan dan mengendalikan nafsunya. Tentunya ini bukan hanya tugas laki-laki, sudah seharusnya sebgai seorang wanita yang beriman kita pun berusaha menjaga diri agar tidak menggoda para lelaki.
Ingin Dikabul,Berdo'alah Ketika Sujud
Ingin Dikabul, Ketika Sujud Berdoalah
SETIAP insan tentu memiliki kebutuhan dan keinginan untuk melengkapi perjalanan hidupnya di dunia. Untuk memenuhinya, tentu membutuhkan perjuangan. Dan perjuangan sebesar apapun tidak akan berhasil tanpa adanya ridha dari Allah SWT. Maka, berdoa menjadi salah satu cara yang paling ampuh untuk kita memohon segala apa yang kita butuhkan dan inginkan pada-Nya.
Meski begitu, terkadang kita merasa doa yang dipanjatkan belum saja dikabul. Nah, selain kita perbanyak istighfar kepada Allah, karena boleh jadi doa belum saa diijabah akibat dosa yang bertumpuk. Kita juga harus bisa mencari waktu yang pas untuk berdoa agar mudah diijabah. Kapankah itu?
Salah satu waktu yang pas bagi kita untuk berdoa ialah ketika sujud. Ya, ketika sujud kita memohon apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Sujud terakhir dalam shalat itu paling utama. Mengapa ketika sujud? Sebab, sujud itu lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda, “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa (ketika sujud),” (HR. Muslim). []
Referensi: Doa, Dzikir dan Ruqyah dari Al-Quran dan As-Sunnah/Karya: DR. Said bin Ali bin Al-Qathani/Penerbit: Aqwam
SETIAP insan tentu memiliki kebutuhan dan keinginan untuk melengkapi perjalanan hidupnya di dunia. Untuk memenuhinya, tentu membutuhkan perjuangan. Dan perjuangan sebesar apapun tidak akan berhasil tanpa adanya ridha dari Allah SWT. Maka, berdoa menjadi salah satu cara yang paling ampuh untuk kita memohon segala apa yang kita butuhkan dan inginkan pada-Nya.
Meski begitu, terkadang kita merasa doa yang dipanjatkan belum saja dikabul. Nah, selain kita perbanyak istighfar kepada Allah, karena boleh jadi doa belum saa diijabah akibat dosa yang bertumpuk. Kita juga harus bisa mencari waktu yang pas untuk berdoa agar mudah diijabah. Kapankah itu?
Salah satu waktu yang pas bagi kita untuk berdoa ialah ketika sujud. Ya, ketika sujud kita memohon apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Sujud terakhir dalam shalat itu paling utama. Mengapa ketika sujud? Sebab, sujud itu lebih mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda, “Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa (ketika sujud),” (HR. Muslim). []
Referensi: Doa, Dzikir dan Ruqyah dari Al-Quran dan As-Sunnah/Karya: DR. Said bin Ali bin Al-Qathani/Penerbit: Aqwam
Saat Malakal Maut Terkejut
Saat Malakul Maut Terkejut
TERSEBUTLAH seorang menteri di masa Nabi Dawud alayhis salaam yang bernama Jalil al-Qadri. Ketika Nabi Dawud meninggal, ia menjadi menteri pula di masa Sulaiman ibn Dawudalayhimas salaam.
Suatu pagi, Nabi Sulaiman alayhis salaam mengadakan pertemuan bersama menteri-menterinya, termasuk dengan menteri Jalil al-Qadri.
Tiba-tiba masuklah seorang lelaki ke majlis itu. Ia memberikan salam dan berbisik kepada Nabiyullah Sulaiman alayhis salaam. Setelah itu, sebelum lelaki tersebut keluar, ia memandang dengan tajam kepada Jalil al-Qadri, sehingga sang menteri ketakutan.
Ketika lelaki itu keluar, sang menteri pun bertanya kepada Nabi Sulaiman alayhis salaam, “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang baru saja keluar tadi .. ? Sungguh tatapan matanya telah membuatku ketakutan.”
Nabi Sulaiman alayhi salam pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah malaikat maut(malakul mawt) yang mendatangiku dalam wujud manusia.”
Seketika gemetarlah menteri itu. Sambil menangis ia pun berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar engkau memerintahkan angin, agar ia membawaku ke tempat yang paling jauh, yaitu India.”
Nabi Sulaiman alayhis salaam pun memenuhi permintaannya. Sang menteri akhirnya pergi saat itu juga menuju India dengan berkendaraan angin.
Esok harinya, malaikat maut datang kembali menemui Nabiyullah Sulaiman alayhis salam. Nabi Sulaiman pun bertanya kepadanya, “Wahai malakul maut, sungguh engkau telah membuat sahabatku ketakutan. Mengapa engkau kemarin menatapnya dengan demikian tajam .. ?”
Malaikat maut pun menjawab, “Wahai Nabi Allah, saat aku mendatangimu kemarin pagi, aku terkejut melihat Jalil al-Qadri masih ada bersamamu di tempat ini. Padahal sebelumnya, Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya ba’da dzuhur di India.”
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. Al-Jumu’ah ayat 8).
(Dikutip dari kitab Hadaiqul Mawt, tulisan Syaikh Muhammad ibn Abdurrahman al-‘Arifi)
TERSEBUTLAH seorang menteri di masa Nabi Dawud alayhis salaam yang bernama Jalil al-Qadri. Ketika Nabi Dawud meninggal, ia menjadi menteri pula di masa Sulaiman ibn Dawudalayhimas salaam.
Suatu pagi, Nabi Sulaiman alayhis salaam mengadakan pertemuan bersama menteri-menterinya, termasuk dengan menteri Jalil al-Qadri.
Tiba-tiba masuklah seorang lelaki ke majlis itu. Ia memberikan salam dan berbisik kepada Nabiyullah Sulaiman alayhis salaam. Setelah itu, sebelum lelaki tersebut keluar, ia memandang dengan tajam kepada Jalil al-Qadri, sehingga sang menteri ketakutan.
Ketika lelaki itu keluar, sang menteri pun bertanya kepada Nabi Sulaiman alayhis salaam, “Wahai Nabi Allah, siapakah lelaki yang baru saja keluar tadi .. ? Sungguh tatapan matanya telah membuatku ketakutan.”
Nabi Sulaiman alayhi salam pun menjawab, “Sesungguhnya ia adalah malaikat maut(malakul mawt) yang mendatangiku dalam wujud manusia.”
Seketika gemetarlah menteri itu. Sambil menangis ia pun berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah aku memohon kepadamu agar engkau memerintahkan angin, agar ia membawaku ke tempat yang paling jauh, yaitu India.”
Nabi Sulaiman alayhis salaam pun memenuhi permintaannya. Sang menteri akhirnya pergi saat itu juga menuju India dengan berkendaraan angin.
Esok harinya, malaikat maut datang kembali menemui Nabiyullah Sulaiman alayhis salam. Nabi Sulaiman pun bertanya kepadanya, “Wahai malakul maut, sungguh engkau telah membuat sahabatku ketakutan. Mengapa engkau kemarin menatapnya dengan demikian tajam .. ?”
Malaikat maut pun menjawab, “Wahai Nabi Allah, saat aku mendatangimu kemarin pagi, aku terkejut melihat Jalil al-Qadri masih ada bersamamu di tempat ini. Padahal sebelumnya, Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk mencabut nyawanya ba’da dzuhur di India.”
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS. Al-Jumu’ah ayat 8).
(Dikutip dari kitab Hadaiqul Mawt, tulisan Syaikh Muhammad ibn Abdurrahman al-‘Arifi)
Wednesday, 30 March 2016
Buruknya Orang Beramal Karena Dunia
Buruknya Orang Yang Beramal Karena Dunia
Rikza Maulan, Lc. MAg.
Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (pakaian sutra kasar) serta budak Khamishah (campuran sutera), (yaitu) yang jika ia diberi maka ia akan ridha, dan jika ia tidak diberi maka dia tidak akan ridha.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra berkata; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (pakaian sutra kasar) serta budak Khamishah (campuran sutera), (yaitu) yang jika ia diberi maka ia akan ridha, dan jika ia tidak diberi maka dia tidak akan ridha.” (HR. Bukhari)
Hikmah Hadits:
Bahwa gemerlap dan kemilaunya kehidupan dunia, seringkali membuat manusia alpa, khilaf dan lupa. Pesona dunia yang memperdaya tersebut dapat menyilaukan mata siapa pun, mulai dari orang awam hingga para pemuka dan orang yang mengerti agama.
Tercelanya orang-orang yang memiliki orientasi duniawi seperti itu, yang bekerja dan beramal hanya demi dinar, dirham, pakaian, dan perhiasan semata. Jika dalam amalnya ia mendapatkan dunia, maka ia ridha dan taat. Namun jika tidak mendapatkannya maka ia berpaling dan tidak ridha.
Pentingnya orientasi akhirat dalam segala amaliyah kita. Karena kelak setiap amalan akan dibalas dengan pahala sesuai dengan niatannya. Jika niatannya adalah dunia, maka ia akan mendapatkan dunia sebagaimana yang diniatkannya. Namun jika niatannya adalah surga dan ridha Allah, maka insya Allah ia juga akan mendapatkannya. Dan mudah-mudahan kita semua dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal, hanya mengharap ridha-Nya. (sb/dakwatuna)
Rikza Maulan, Lc. MAg.
Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (pakaian sutra kasar) serta budak Khamishah (campuran sutera), (yaitu) yang jika ia diberi maka ia akan ridha, dan jika ia tidak diberi maka dia tidak akan ridha.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra berkata; bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Celakalah budak dinar, budak dirham, budak qathifah (pakaian sutra kasar) serta budak Khamishah (campuran sutera), (yaitu) yang jika ia diberi maka ia akan ridha, dan jika ia tidak diberi maka dia tidak akan ridha.” (HR. Bukhari)
Hikmah Hadits:
Bahwa gemerlap dan kemilaunya kehidupan dunia, seringkali membuat manusia alpa, khilaf dan lupa. Pesona dunia yang memperdaya tersebut dapat menyilaukan mata siapa pun, mulai dari orang awam hingga para pemuka dan orang yang mengerti agama.
Tercelanya orang-orang yang memiliki orientasi duniawi seperti itu, yang bekerja dan beramal hanya demi dinar, dirham, pakaian, dan perhiasan semata. Jika dalam amalnya ia mendapatkan dunia, maka ia ridha dan taat. Namun jika tidak mendapatkannya maka ia berpaling dan tidak ridha.
Pentingnya orientasi akhirat dalam segala amaliyah kita. Karena kelak setiap amalan akan dibalas dengan pahala sesuai dengan niatannya. Jika niatannya adalah dunia, maka ia akan mendapatkan dunia sebagaimana yang diniatkannya. Namun jika niatannya adalah surga dan ridha Allah, maka insya Allah ia juga akan mendapatkannya. Dan mudah-mudahan kita semua dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah dan beramal, hanya mengharap ridha-Nya. (sb/dakwatuna)
Pengkhiatan Terbesar Adalah Pengkhiatan Seorang Pemimpin
Penghianatan Terbesar adalah Penghianatan Seorang Pemimpin
Redaksi – Selasa, 4 Zulqa'dah 1436 H / 18 Agustus 2015 08:45 WIB
Kota Madinah menjelang Ashar. Langit cerah. Orang-orang bergegas menuju ke masjid. Ingin bertemu dengan Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam. Mereka para sahabat Anshar dan Muhajirin, yang senantiasa setia bersamanya. Di waktu suka dan duka. Mereka dalam satu ikatan aqidah Islam, yang menjadi tali ‘buhul’, yang kuat bagi kehidupan mereka bersama. Para sahabat Anshar dan Muhajirin, senantiasa berpaut dalam ikatan ukhuwah, dan saling mencintai, atau ruhul mahabbah.
Usai shalat Ashar Rasulullah Shallahu alaihi wa salam menyampaikan khotbahnya, “Amma ba’du. Sesungguhnya dunia itu indah dan manis. Allah menjadikan kalian khalifah di sana untuk melihat apa yang kalian perbuat. Waspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita,karena fitnah pertama Bani Israel berawal dari wanita. Ketahuilah, Bani Adam diciptakan dengan bertingkat-tingkat. Ada yang dilahirkan sebagai mukmin,hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai mukmin. Ada pula yang lahir sebagai kafir, dan hidup sebagai kafir, dan mati sebagai kafir. Ada yang dilahirkan sebagai mukmin, dan hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai kafir. Tapi, ada orang yang dilahirkan kafir, dan hidup sebagai kafir, dan mati sebagai mukmin.”
Maka, kehidupan manusia itu sangatlah relative, tergantung manusia, bagaimana dalam menghadapi proses kehidupan ini. Jika seseorang selalu menjaga hubungannya dengan Allah Azza Wa Jalla, melalui cara-cara yang sudah disyariatkan, maka niscaya ia akan mengakhiri kehidupannya sebagai seorang mukmin. Tapi, betapa banyaknya manusia yang lahir sebagai mukmin, dan hidup sebagai mukmin, tapi ketika mati menjadi kafir. Karena, ia diakhir hidupnya meninggalkan syariat, ketentuan-ketentuan yang telah diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla.
Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, kemudian menyampaikan kepada kaum mukminin, yang berkumpul dihadapannya :
“Ketahuilah amarah adalah bara api yang dinyalakan di dalam dada anak Adam. Tidaklah kalian melihat matanya yang merah, dan urat-uratnya yang melembung? Jika, ada diantara kalian yang mengalaminya, hendaknya ia melihat ke tanah. Seorang lelaki yang baik adalah yang lambat marah dan cepat ridha, jika ia marah.
Seorang lelaki yang jelek adalah yang cepat marah dan lambat ridhanya, jika marah. Apabila, seseorang itu lambat marah dan lambat kembali sadar, atau cepat marah dan cepat sadar, maka kedua sifat itu sebanding”, ujar Rasulullah.
Kemudian, Rasulullah Shallahu alaihi wa salam melanjutkan khotbahnya : “Ketahuilah, setiap pengkhianat akan memiliki bendera pada hari Kiamat sebesar pengkhianatannya. Ketahuilah, pengkhiantan terbesar adalah pengkhianatan seorang pemimpin. Hendaknya ketakutan kepada manusia tidak menghalangi seseorang untuk mengungkapkan kebenaran, jika ia mengatahuinya.
Ketahuilah, jihad yang paling utama adalah mengungkapkan kebenaran dihadapan seorang penguasa yang zalim”. Rasulullah Shallahu alaihi wa salam terus berkhotbah,hingga matahari hanya tinggal berwarna kemerahan diujung dahan kurma.
Beliau bersabda : “Ketahuilah bahwa masa dunia yang tersisa dibanding yang telah lewat adalah seperti hari kalian yang tersisa ini dibanding keseluruhan waktu yang lewat”. (HR. Ahmad,Tirmidzi, dan Hakim).
Rasulullah Shllahu alaihi wa salam menyinggung salah satunya adalah mengenai bahaya dunia. Beliau menjelaskan bahwa rasa dan rupa dunia adalah manis. Lalu, Beliau memperingatkan kita akan bahaya dan godaan dunia. Beliau bersabda : “Maka, waspadalah terhadap dunia”. Karena dunia membawa bencana, apabila datang dan menjadikan tubuh kurus bila pergi.
Seorang penyair mengungkapkan : “Inilah dunia. Ia berkata dengan lantang : “Hati-hati. Waspadalah terhadap cengkeraman dan pembunuhanku. Janganlah kalian terkecoh dengan senyumku, karena ucapanku menjadikan kalian tertawa, tetapi tindakanku menjadikan kalian menangis”.Lalu, Rasulullah menutup khotbahnya dengan bersabda : “Ketahuilah, masa dunia yang tersisa …..” Dengan kalimat itu, Beliau ingin mengingatkan kita bahwa dunia, seperti digambarkan oleh Allah Swt, dalam all-Qur’an : “.. Permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnya kuning, kemudian menjadi hancur ..” (al-Hadid : 20).
“Duniamu tidak lain seperti sebuah tempat berteduh yang menaungimu, lalu menyuruhmu pergi”, ujar seorang penyair. Marilah menarik pelajaran dari ini semua. Jangan kita termasuk orang-orang yang menganggap dunia merupakan jembatan penyeberangan menuju akhirat, atau sawah ladang tempat bercocok tanam, yang menjadi bekal akhirat. Karena, tak semua orang memahami tentang kehidudpan dunia ini.
Banyak diantara mereka yang tergelincir, dan kemudian menjadi budak dunia.Mereka orang-orang yang lalai, dan merasa mulia dengan kehidupan dunia, serta menikmati berbagai aksesoris yang megah, dan palsu. Berupa benda, jabatan, wanita, dan segala bentuk atribut lainnya, yang tak berarti apa-apa.
Padahal, mereka ketika sudah menghadap Allah Azza Wa Jalla, menjadi orang paling hina nestapa, tak memiliki kemuliaan apapun. Wajah hitam hangus. Akibat panasnya api neraka. Wallahu ‘alam. (Mh)
Sumber : Eramuslim
Redaksi – Selasa, 4 Zulqa'dah 1436 H / 18 Agustus 2015 08:45 WIB
Kota Madinah menjelang Ashar. Langit cerah. Orang-orang bergegas menuju ke masjid. Ingin bertemu dengan Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam. Mereka para sahabat Anshar dan Muhajirin, yang senantiasa setia bersamanya. Di waktu suka dan duka. Mereka dalam satu ikatan aqidah Islam, yang menjadi tali ‘buhul’, yang kuat bagi kehidupan mereka bersama. Para sahabat Anshar dan Muhajirin, senantiasa berpaut dalam ikatan ukhuwah, dan saling mencintai, atau ruhul mahabbah.
Usai shalat Ashar Rasulullah Shallahu alaihi wa salam menyampaikan khotbahnya, “Amma ba’du. Sesungguhnya dunia itu indah dan manis. Allah menjadikan kalian khalifah di sana untuk melihat apa yang kalian perbuat. Waspadalah terhadap dunia dan waspadalah terhadap wanita,karena fitnah pertama Bani Israel berawal dari wanita. Ketahuilah, Bani Adam diciptakan dengan bertingkat-tingkat. Ada yang dilahirkan sebagai mukmin,hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai mukmin. Ada pula yang lahir sebagai kafir, dan hidup sebagai kafir, dan mati sebagai kafir. Ada yang dilahirkan sebagai mukmin, dan hidup sebagai mukmin, dan mati sebagai kafir. Tapi, ada orang yang dilahirkan kafir, dan hidup sebagai kafir, dan mati sebagai mukmin.”
Maka, kehidupan manusia itu sangatlah relative, tergantung manusia, bagaimana dalam menghadapi proses kehidupan ini. Jika seseorang selalu menjaga hubungannya dengan Allah Azza Wa Jalla, melalui cara-cara yang sudah disyariatkan, maka niscaya ia akan mengakhiri kehidupannya sebagai seorang mukmin. Tapi, betapa banyaknya manusia yang lahir sebagai mukmin, dan hidup sebagai mukmin, tapi ketika mati menjadi kafir. Karena, ia diakhir hidupnya meninggalkan syariat, ketentuan-ketentuan yang telah diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla.
Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, kemudian menyampaikan kepada kaum mukminin, yang berkumpul dihadapannya :
“Ketahuilah amarah adalah bara api yang dinyalakan di dalam dada anak Adam. Tidaklah kalian melihat matanya yang merah, dan urat-uratnya yang melembung? Jika, ada diantara kalian yang mengalaminya, hendaknya ia melihat ke tanah. Seorang lelaki yang baik adalah yang lambat marah dan cepat ridha, jika ia marah.
Seorang lelaki yang jelek adalah yang cepat marah dan lambat ridhanya, jika marah. Apabila, seseorang itu lambat marah dan lambat kembali sadar, atau cepat marah dan cepat sadar, maka kedua sifat itu sebanding”, ujar Rasulullah.
Kemudian, Rasulullah Shallahu alaihi wa salam melanjutkan khotbahnya : “Ketahuilah, setiap pengkhianat akan memiliki bendera pada hari Kiamat sebesar pengkhianatannya. Ketahuilah, pengkhiantan terbesar adalah pengkhianatan seorang pemimpin. Hendaknya ketakutan kepada manusia tidak menghalangi seseorang untuk mengungkapkan kebenaran, jika ia mengatahuinya.
Ketahuilah, jihad yang paling utama adalah mengungkapkan kebenaran dihadapan seorang penguasa yang zalim”. Rasulullah Shallahu alaihi wa salam terus berkhotbah,hingga matahari hanya tinggal berwarna kemerahan diujung dahan kurma.
Beliau bersabda : “Ketahuilah bahwa masa dunia yang tersisa dibanding yang telah lewat adalah seperti hari kalian yang tersisa ini dibanding keseluruhan waktu yang lewat”. (HR. Ahmad,Tirmidzi, dan Hakim).
Rasulullah Shllahu alaihi wa salam menyinggung salah satunya adalah mengenai bahaya dunia. Beliau menjelaskan bahwa rasa dan rupa dunia adalah manis. Lalu, Beliau memperingatkan kita akan bahaya dan godaan dunia. Beliau bersabda : “Maka, waspadalah terhadap dunia”. Karena dunia membawa bencana, apabila datang dan menjadikan tubuh kurus bila pergi.
Seorang penyair mengungkapkan : “Inilah dunia. Ia berkata dengan lantang : “Hati-hati. Waspadalah terhadap cengkeraman dan pembunuhanku. Janganlah kalian terkecoh dengan senyumku, karena ucapanku menjadikan kalian tertawa, tetapi tindakanku menjadikan kalian menangis”.Lalu, Rasulullah menutup khotbahnya dengan bersabda : “Ketahuilah, masa dunia yang tersisa …..” Dengan kalimat itu, Beliau ingin mengingatkan kita bahwa dunia, seperti digambarkan oleh Allah Swt, dalam all-Qur’an : “.. Permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnya kuning, kemudian menjadi hancur ..” (al-Hadid : 20).
“Duniamu tidak lain seperti sebuah tempat berteduh yang menaungimu, lalu menyuruhmu pergi”, ujar seorang penyair. Marilah menarik pelajaran dari ini semua. Jangan kita termasuk orang-orang yang menganggap dunia merupakan jembatan penyeberangan menuju akhirat, atau sawah ladang tempat bercocok tanam, yang menjadi bekal akhirat. Karena, tak semua orang memahami tentang kehidudpan dunia ini.
Banyak diantara mereka yang tergelincir, dan kemudian menjadi budak dunia.Mereka orang-orang yang lalai, dan merasa mulia dengan kehidupan dunia, serta menikmati berbagai aksesoris yang megah, dan palsu. Berupa benda, jabatan, wanita, dan segala bentuk atribut lainnya, yang tak berarti apa-apa.
Padahal, mereka ketika sudah menghadap Allah Azza Wa Jalla, menjadi orang paling hina nestapa, tak memiliki kemuliaan apapun. Wajah hitam hangus. Akibat panasnya api neraka. Wallahu ‘alam. (Mh)
Sumber : Eramuslim
Monday, 21 March 2016
Siapakah Manusia Terbaik???
Di antara karunia Allah yang paling berharga bagi manusia adalah usia, waktu, dan kesempatan hidup. Dengan ketiga hal itu manusia bisa berkarya, mengukir prestasi, beribadah, dan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Jika orang Barat berkata bahwa waktu adalah uang (time is money), lalu bangsa Arab mengibaratkan waktu laksana pedang yang jika tidak ditebas ia akan menebas, Islam mengajarkan waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.
Sumpah Allah dengan keseluruhan waktu menjadi petunjuk atas hal itu. Dalam Alquran Allah bersumpah dengan waktu fajar, Subuh, dhuha, siang, asar, dan malam. Di samping untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sumpah Allah dengan waktu merupakan isyarat agar manusia mempergunakan waktu yang dimiliki secara optimal.
Allah berfirman, ''Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati dengan kebenaran, serta nasihat-menasihati dalam kesabaran (QS al-Ashr [103]: 1-3).
Ketika Rasulullah SAW ditanya, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau menjawab, ''Orang yang panjang usianya dan baik amalnya.'' Beliau kembali ditanya, ''Lalu siapa manusia terburuk?'' Jawab Rasul, ''Orang yang panjang usianya tetapi jelek amalnya.'' (HR at-Tirmidzi).
Karena itu, generasi saleh terdahulu begitu menghargai waktu. Usia singkat yang Allah karuniakan pada mereka benar-benar dimanfaatkan untuk amal-amal positif, hingga melahirkan banyak karya yang monumental.
Misalnya, sahabat yang bernama Sa'ad ibn Mu'adz. Ia masuk Islam pada usia 30 tahun dan meninggal pada usia 37 tahun. ''Singgasana Tuhan berguncang karena kematian Sa'ad ibn Mu'adz,'' begitu komentar Rasulullah atas kematian Sa'ad. Meski hanya tujuh tahun bersama Islam, ia telah memberikan kontribusi besar dalam jihad dan dakwah Islam.
Contoh lainnya, Imam Nawawi yang berusia tidak lebih dari 40 tahun, tetapi berhasil menulis sekitar 500 buku. Salah satunya kitab Riyadhus Shalihin yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Lewat karya-karya dan jasa yang ditorehkan itu, hidup mereka membentang hingga akhir zaman, jauh melampaui usia biologisnya.
Mereka itulah teladan umat yang mampu meresapi keluhuran ajaran Nabi SAW dalam sabdanya, ''Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, serta ilmunya dalam hal apa ia amalkan.'' (Hadis Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi).
Jika orang Barat berkata bahwa waktu adalah uang (time is money), lalu bangsa Arab mengibaratkan waktu laksana pedang yang jika tidak ditebas ia akan menebas, Islam mengajarkan waktu adalah kehidupan. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.
Sumpah Allah dengan keseluruhan waktu menjadi petunjuk atas hal itu. Dalam Alquran Allah bersumpah dengan waktu fajar, Subuh, dhuha, siang, asar, dan malam. Di samping untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sumpah Allah dengan waktu merupakan isyarat agar manusia mempergunakan waktu yang dimiliki secara optimal.
Allah berfirman, ''Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati dengan kebenaran, serta nasihat-menasihati dalam kesabaran (QS al-Ashr [103]: 1-3).
Ketika Rasulullah SAW ditanya, ''Siapa manusia terbaik?'' Beliau menjawab, ''Orang yang panjang usianya dan baik amalnya.'' Beliau kembali ditanya, ''Lalu siapa manusia terburuk?'' Jawab Rasul, ''Orang yang panjang usianya tetapi jelek amalnya.'' (HR at-Tirmidzi).
Karena itu, generasi saleh terdahulu begitu menghargai waktu. Usia singkat yang Allah karuniakan pada mereka benar-benar dimanfaatkan untuk amal-amal positif, hingga melahirkan banyak karya yang monumental.
Misalnya, sahabat yang bernama Sa'ad ibn Mu'adz. Ia masuk Islam pada usia 30 tahun dan meninggal pada usia 37 tahun. ''Singgasana Tuhan berguncang karena kematian Sa'ad ibn Mu'adz,'' begitu komentar Rasulullah atas kematian Sa'ad. Meski hanya tujuh tahun bersama Islam, ia telah memberikan kontribusi besar dalam jihad dan dakwah Islam.
Contoh lainnya, Imam Nawawi yang berusia tidak lebih dari 40 tahun, tetapi berhasil menulis sekitar 500 buku. Salah satunya kitab Riyadhus Shalihin yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Lewat karya-karya dan jasa yang ditorehkan itu, hidup mereka membentang hingga akhir zaman, jauh melampaui usia biologisnya.
Mereka itulah teladan umat yang mampu meresapi keluhuran ajaran Nabi SAW dalam sabdanya, ''Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, serta ilmunya dalam hal apa ia amalkan.'' (Hadis Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi).
Subscribe to:
Posts (Atom)






