Di sebuah sungai yang airnya tenang, ada seekor anak katak yang bertanya kepada Ibunya “Ibu, Apa sih yang paling diharapkan bangsa katak?”.
Ibunya pun menjawab, “Yang kita selalu nantikan adalah Hujan, nak”.
Si anak katak pun setelah mendapat jawaban tersebut selalu mengharapkan Hujan. Namun setelah Hujan datang, si anak katak itu selalu ketakutan karena terdapat banyak kilat dan petir yang menyambar. Si anak katak selalu sembunyi di belakang tubuh ibunya ketika kilat dan petir itu datang bersahutan.
Namun, setelah turun hujan si anak katak gembira bukan main seperti katak-katak lainnya. Mereka girang berlompatan kesana-kemari karena bagi mereka hal yang paling menyenangkan adalah ketika hujan datang.
Begitu juga dalam hidup kita, sering kali kita menemukan kesulitan –kesulitan seperti kilat dan petir menyambar yang dialami si anak katak. Sehingga terkadang kita ketakutan dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Membuat kita jatuh dan sulit bangkit. Sehingga kita mengabaikan hakikat kita sebagai manusia ciptaan Allah. Seperti yang dijelaskan dalam ayat berikut ini :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35).
Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah sebuah tempaan yang Allah berikan agar kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur atas nikmat dan limpahan rahmat yang telah Allah berikan. Terkadang ujian dan cobaan dalam hidup, membuat kita kehilangan arah. Allah menguji kita dengan kenikmatan hidup yang membuat kita terlena, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah yang membuat kita jatuh tak berdaya. Sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, hidup sebelum terlelap di pembaringan untuk selamanya.
Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada hikmah yang didapat. Oleh karena itu dalam sebuah hadits dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ , لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).
Yakinlah setiap kehidupan yang kita jalani hari ini pasti ada kebaikan dan maksud di balik itu semua. Yang pasti akan indah pada waktunya. Tinggal kita yang memilih ingin hidup menjadi pemenang dan bahagia dengan proses yang telah Dia tetapkan atau menjadi pengecut yang takut menjalani kehidupan yang fana ini. Karena pada hakikatnya “Jatuh itu pasti tapi bangkit adalah sebuah pilihan”.
loading...
Wednesday, 16 March 2016
Tuesday, 15 March 2016
Bertobat Penawar Godaan Iblis
Begitu diusir dari surga, iblis mengajukan satu permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Permintaan tersebut pun dikabulkan.
Iblis berkata, "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman,
"Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)." Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS Shaad [38]: 79-82).
Iblis berjanji dengan berbagai daya dan upaya akan menyesatkan umat manusia hingga hari kiamat kelak. Inilah mengapa iblis diberikan umur panjang dan kemampuan beranak-pinak dengan cepat. Tiap kelahiran satu anak manusia, maka lahirlah keturunan iblis. Namun, begitu manusia meninggal, iblis tetap hidup.
Meski iblis mendapatkan kesempatan menggoda anak manusia hingga hari kiamat, Allah memberikan penawarnya, yakni dengan menjaga konsistensi bertobat nasuha. Ini seperti penegasan surah al-Baqarah ayat ke-160. "Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya. Mereka itulah yang Aku terima tobatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."
Dalam kisah ini hendaknya kita juga mengambil pelajaran, selain mendoakan keselamatan bagi orang lain, berdoalah juga untuk keselamatan diri kita sendiri agar Allah tidak menyesatkan kita seperti Allah telah menyesatkan iblis yang angkuh dan menyombongkan diri sendiri.
Iblis berkata, "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman,
"Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)." Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS Shaad [38]: 79-82).
Iblis berjanji dengan berbagai daya dan upaya akan menyesatkan umat manusia hingga hari kiamat kelak. Inilah mengapa iblis diberikan umur panjang dan kemampuan beranak-pinak dengan cepat. Tiap kelahiran satu anak manusia, maka lahirlah keturunan iblis. Namun, begitu manusia meninggal, iblis tetap hidup.
Meski iblis mendapatkan kesempatan menggoda anak manusia hingga hari kiamat, Allah memberikan penawarnya, yakni dengan menjaga konsistensi bertobat nasuha. Ini seperti penegasan surah al-Baqarah ayat ke-160. "Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya. Mereka itulah yang Aku terima tobatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."
Dalam kisah ini hendaknya kita juga mengambil pelajaran, selain mendoakan keselamatan bagi orang lain, berdoalah juga untuk keselamatan diri kita sendiri agar Allah tidak menyesatkan kita seperti Allah telah menyesatkan iblis yang angkuh dan menyombongkan diri sendiri.
Kesombongan Yang Menghapus Ibadah
Kesombongan iblis yang hanya sesaat, mampu menghapus ibadahnya selama ribuan tahun. Kisah iblis bisa menjadi cerminan bagi kita umat Islam untuk tidak berbangga dengan ibadah yang sudah dilakukan selama bertahun- tahun.
Karena, sesungguhnya mudah bagi Allah SWT untuk menggelincirkan setiap umatnya yang dikehendaki pada kesesatan dan mudah juga bagi Allah memberikan hidayah meski umatnya telah berbuat dosa selama hidupnya.
Mengutip kitab tafsir Marah Labid atau yang masyhur dikenal dengan Tafsir al- Munir karya Imam an-Naawi al-Bantani serta dinukilkan dari Hasyiyat as-Shawi atas Tafsir al-Jalalain, dalam sejumlah riwayat terungkap, konon iblis adalah penjaga surga dalam kurun waktu 40 ribu tahun.
Ia pernah hidup bersama dengan malaikat selama 80 ribu tahun dan tawaf mengelilingi Arsy bersama para malaikat selama 14 ribu tahun.
Iblis tidak merasa lelah atau mengeluh dalam menjalankan perintah Allah SWT. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apa pun kecuali karena Allah semata. Pada masa itu, malaikat dan lainnya memberi gelar al-'Aziz (makhluk Allah yang termulia) kepada iblis, ada juga yang memberi gelar `Azazil (panglima besar malaikat).
Di langit pertama sampai ketujuh, iblis begitu dihormati oleh para malaikat. Jika iblis lewat di depan para malaikat maka malaikat menghormati iblis bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama iblis di penjuru alam semesta.
Imam Abu Hamid al-Ghazali mengatakan, Allah SWT menaikkan iblis dengan cepat ke langit karena lebih unggul ibadahnya di antara penghuni surga. Setiap pindah dari langit satu ke langit lainnya, Allah memberinya gelar. Pada langit pertama, iblis diberi gelar al-Abid (ahli ibadah).
Pada tingkatan langit kedua, iblis diberi gelar az- Zahid, kemudian di langit ketiga, namanya disebut al-'Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al- Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi, di langit keenam, namanya disebut al-Kazin, dan pada langit ketujuh, namanya disebut `Azazil.
Namun, di dalam Lauhul Mahfudz, namanya berubah, bukan nama sesuai prestasi ibadahnya.
Allah menggantinya dengan nama iblis sampai akhir zaman. Perubahan nama menjadi iblis karena dia tidak menjalankan perintah Allah untuk menghormati Adam. Padahal, penghuni langit bersujud kepada Adam.
Setelah beberapa saat diciptakan, Adam meli hat semua penghuni surga sedang khusyuk menjalankan ibadah. Lalu, Allah memerintahkan seluruh penghuni langit untuk menghadap karena Allah akan menginstruksikan mereka menghormati Adam.
Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini," firman Allah seperti dikisahkan surah al-Baqarah ayat ke-30. Seketika itu, seluruh penghuni surga protes.
Bagaimana tidak? Adam yang baru saja diciptakan dan belum teruji kualitas ibadahnya tiba-tiba mesti dihormati. Karena alasan itulah para penghuni surga protes. Salah satu di antara penghuni surga berkata seperti yang diabadikan dalam surah al-Baqarah ayat ke-30.
"Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu."
Mendengarkan perkataan malaikat itu, Allah menjawab, "Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Setelah itu, Allah menunjukkan kelebihan Adam kepada seluruh penghuni langit.
Meski baru diciptakan, Adam lebih banyak mengetahui daripada penghuni langit yang lebih dulu diciptakan.
Pada saat itu juga Allah menyerukan penghuni langit untuk mengulang apa yang telah Adam sampaikan seperti diabadikan dalam surah al- Baqarah ayat ke-31. "Sebutkan kepada-Ku, nama semua benda ini, jika kalian yang benar."
Namun, semua penghuni langit terdiam tidak bisa menjawab satu pun nama-nama benda itu dan berkata, "Mahasuci Allah, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami."
Para malaikat malu, mereka protes atas diciptakannya Adam. Untuk itu, para malaikat bertobat dan kembali memuji Allah. "Sungguh Engkau Allah yang Mahamengetahui,
Mahabijaksana." Akhirnya semua penghuni langit bersujud kepada Adam atas kelebihan yang Allah berikan kepadanya.
Membangkang Namun, satu di antara penghuni surga yang akhirnya diberi nama iblis tidak mau bersujud kepada Adam dan melayangkan protesnya lebih keras dari protes malaikat sebelumnya. "Aku lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan aku engkau diciptakan dari api," kata iblis.
Setelah melihat iblis tidak menyesal dan tak merasa bersalah telah menolak perintah Allah yang satu ini, Allah segera mengusir iblis dari langit. Ketika itu, keindahan langit digambarkan seperti keindahan surga. Kemudian, Allah mengubah muka iblis yang semula sangat indah cemerlang menjadi hina.
Melihat keadaan pemimpin dan bendahara surga seperti itu, para malaikat yang jadi anak buahnya menjadi sedih. Namun, apa daya Allah telah menghendaki demikian. Setelah iblis tidak lagi ada di antara mereka, malaikat langsung berkumpul dan menceritakan kejadian pengusiran iblis.
Malaikat Jibril dan Mikail menangis di antara penghuni surga. Melihat malaikat yang ditugasi sebagai pengantar wahyu dan pemberi rezeki itu menangis, Allah bertanya, "Apakah yang membuat kamu menangis?"
Dengan penuh rasa hormat, mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu."
Kemudian, Allah kembali berfirman kepada malaikat, "Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu daya-Ku."
Karena, sesungguhnya mudah bagi Allah SWT untuk menggelincirkan setiap umatnya yang dikehendaki pada kesesatan dan mudah juga bagi Allah memberikan hidayah meski umatnya telah berbuat dosa selama hidupnya.
Mengutip kitab tafsir Marah Labid atau yang masyhur dikenal dengan Tafsir al- Munir karya Imam an-Naawi al-Bantani serta dinukilkan dari Hasyiyat as-Shawi atas Tafsir al-Jalalain, dalam sejumlah riwayat terungkap, konon iblis adalah penjaga surga dalam kurun waktu 40 ribu tahun.
Ia pernah hidup bersama dengan malaikat selama 80 ribu tahun dan tawaf mengelilingi Arsy bersama para malaikat selama 14 ribu tahun.
Iblis tidak merasa lelah atau mengeluh dalam menjalankan perintah Allah SWT. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apa pun kecuali karena Allah semata. Pada masa itu, malaikat dan lainnya memberi gelar al-'Aziz (makhluk Allah yang termulia) kepada iblis, ada juga yang memberi gelar `Azazil (panglima besar malaikat).
Di langit pertama sampai ketujuh, iblis begitu dihormati oleh para malaikat. Jika iblis lewat di depan para malaikat maka malaikat menghormati iblis bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama iblis di penjuru alam semesta.
Imam Abu Hamid al-Ghazali mengatakan, Allah SWT menaikkan iblis dengan cepat ke langit karena lebih unggul ibadahnya di antara penghuni surga. Setiap pindah dari langit satu ke langit lainnya, Allah memberinya gelar. Pada langit pertama, iblis diberi gelar al-Abid (ahli ibadah).
Pada tingkatan langit kedua, iblis diberi gelar az- Zahid, kemudian di langit ketiga, namanya disebut al-'Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al- Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi, di langit keenam, namanya disebut al-Kazin, dan pada langit ketujuh, namanya disebut `Azazil.
Namun, di dalam Lauhul Mahfudz, namanya berubah, bukan nama sesuai prestasi ibadahnya.
Allah menggantinya dengan nama iblis sampai akhir zaman. Perubahan nama menjadi iblis karena dia tidak menjalankan perintah Allah untuk menghormati Adam. Padahal, penghuni langit bersujud kepada Adam.
Setelah beberapa saat diciptakan, Adam meli hat semua penghuni surga sedang khusyuk menjalankan ibadah. Lalu, Allah memerintahkan seluruh penghuni langit untuk menghadap karena Allah akan menginstruksikan mereka menghormati Adam.
Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini," firman Allah seperti dikisahkan surah al-Baqarah ayat ke-30. Seketika itu, seluruh penghuni surga protes.
Bagaimana tidak? Adam yang baru saja diciptakan dan belum teruji kualitas ibadahnya tiba-tiba mesti dihormati. Karena alasan itulah para penghuni surga protes. Salah satu di antara penghuni surga berkata seperti yang diabadikan dalam surah al-Baqarah ayat ke-30.
"Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu."
Mendengarkan perkataan malaikat itu, Allah menjawab, "Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui." Setelah itu, Allah menunjukkan kelebihan Adam kepada seluruh penghuni langit.
Meski baru diciptakan, Adam lebih banyak mengetahui daripada penghuni langit yang lebih dulu diciptakan.
Pada saat itu juga Allah menyerukan penghuni langit untuk mengulang apa yang telah Adam sampaikan seperti diabadikan dalam surah al- Baqarah ayat ke-31. "Sebutkan kepada-Ku, nama semua benda ini, jika kalian yang benar."
Namun, semua penghuni langit terdiam tidak bisa menjawab satu pun nama-nama benda itu dan berkata, "Mahasuci Allah, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami."
Para malaikat malu, mereka protes atas diciptakannya Adam. Untuk itu, para malaikat bertobat dan kembali memuji Allah. "Sungguh Engkau Allah yang Mahamengetahui,
Mahabijaksana." Akhirnya semua penghuni langit bersujud kepada Adam atas kelebihan yang Allah berikan kepadanya.
Membangkang Namun, satu di antara penghuni surga yang akhirnya diberi nama iblis tidak mau bersujud kepada Adam dan melayangkan protesnya lebih keras dari protes malaikat sebelumnya. "Aku lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan aku engkau diciptakan dari api," kata iblis.
Setelah melihat iblis tidak menyesal dan tak merasa bersalah telah menolak perintah Allah yang satu ini, Allah segera mengusir iblis dari langit. Ketika itu, keindahan langit digambarkan seperti keindahan surga. Kemudian, Allah mengubah muka iblis yang semula sangat indah cemerlang menjadi hina.
Melihat keadaan pemimpin dan bendahara surga seperti itu, para malaikat yang jadi anak buahnya menjadi sedih. Namun, apa daya Allah telah menghendaki demikian. Setelah iblis tidak lagi ada di antara mereka, malaikat langsung berkumpul dan menceritakan kejadian pengusiran iblis.
Malaikat Jibril dan Mikail menangis di antara penghuni surga. Melihat malaikat yang ditugasi sebagai pengantar wahyu dan pemberi rezeki itu menangis, Allah bertanya, "Apakah yang membuat kamu menangis?"
Dengan penuh rasa hormat, mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu."
Kemudian, Allah kembali berfirman kepada malaikat, "Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu daya-Ku."
Monday, 14 March 2016
Man Jadda Wajada
Man Jadda Wajada sebuah pepatah Arab yang menjadi kompas perjalanan dalam mencapai impian, angan, dan cita-cita. Sebuah pepatah yang memiliki kekuatan yang sedemikian takjubnya hingga banyak orang-orang muslim percaya dan memegangnya sebagai prinsip dan pedoman, namun bila seseorang teguh benar menelaah secara mendalam pepatah ini. Maka tidaklah jadi prinsip dan pedoman saja, melainkan akan mendarah daging pada hati dan jiwa seseorang itu.
Pepatah ini begitu menjamur di berbagai lembaga keislaman terutama di kalangan pondok-pondok pesantren dan modern, hampir seluruh santri-santrinya di ajarkan untuk selalu berpedoman pada pepatah ini dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan, insya Allah kesuksesan yang di maksud bukan kesuksesan dalam hal keduniawian saja, melainkan juga kesuksesan ukhrawi asalkan pepatah ini benar-benar di terapkan sesuai dengan yang di syariatkan. Pepatah ini menjadi kondang sejak munculnya sebuah novel bertajuk religi karya Ahmad Fuadi dengan judul Negeri Lima Menara, yang mana novel itu benar-benar membumikan pepatah ini sepanjang jalan ceritanya.
Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.
Nah, bagi sahabat yang menyimpan angan-angan, harapan dan mempunyai cita-cita setinggi langit namun tidak memiliki sesuatu yang mendukung untuk bisa meraihnya maka janganlah bersedih, jangan jadikan halangan-halangan itu sebagai alasan bagi sahabat untuk mengandalkan pesimis “ah nggak bakalan mungkin bisa”, “sainganku banyak yang lebih mampu dari aku, lebih pintar dari aku” buang jauh-jauh perasaan itu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu kepada siapa kelak keberhasilan itu akan memihak, bukankah keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu jatuh kepada yang paling pintar dan mampu saja? Banyak kok orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, namun tidak bisa di katakan berhasil dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang di dapatnya, tidak bisa mengaplikasikan gelar dan pendidikannya, bukan tidak mungkin karena tidak ada sedikitpun kesungguhan dari dalam hati seseorang itu.
Bilamana sahabat mempunyai cita-cita kuliah keluar negeri, ingin jadi dokter, dan sebagainya namun tidak cukup mampu dalam hal biaya dan materi, otak pas-pasan, itu bukanlah masalah karena setiap manusia di bekali dengan potensi yang bisa di kembangkan, selain itu setiap manusia juga di bekali akal yang mana akal itu kita gunakan untuk menerapkan kesungguhan dan keteguhan kita dalam mengembangkan potensi yang kita miliki itu. Namun dalam hal ini tergantung dari sahabat sendiri yang sanggup menjalankannya secara istiqamah ataukah tidak. Karena kesungguhan itu sendiri juga tidak akan berarti apa-apa jika tidak di sertai dengan keajegan atau konsisten dengan tujuannya.
Man Jadda Wajada sebuah pepatah Arab yang menjadi kompas perjalanan dalam mencapai impian, angan, dan cita-cita. Sebuah pepatah yang memiliki kekuatan yang sedemikian takjubnya hingga banyak orang-orang muslim percaya dan memegangnya sebagai prinsip dan pedoman, namun bila seseorang teguh benar menelaah secara mendalam pepatah ini. Maka tidaklah jadi prinsip dan pedoman saja, melainkan akan mendarah daging pada hati dan jiwa seseorang itu.
Pepatah ini begitu menjamur di berbagai lembaga keislaman terutama di kalangan pondok-pondok pesantren dan modern, hampir seluruh santri-santrinya di ajarkan untuk selalu berpedoman pada pepatah ini dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan, insya Allah kesuksesan yang di maksud bukan kesuksesan dalam hal keduniawian saja, melainkan juga kesuksesan ukhrawi asalkan pepatah ini benar-benar di terapkan sesuai dengan yang di syariatkan. Pepatah ini menjadi kondang sejak munculnya sebuah novel bertajuk religi karya Ahmad Fuadi dengan judul Negeri Lima Menara, yang mana novel itu benar-benar membumikan pepatah ini sepanjang jalan ceritanya.
Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.
Nah, bagi sahabat yang menyimpan angan-angan, harapan dan mempunyai cita-cita setinggi langit namun tidak memiliki sesuatu yang mendukung untuk bisa meraihnya maka janganlah bersedih, jangan jadikan halangan-halangan itu sebagai alasan bagi sahabat untuk mengandalkan pesimis “ah nggak bakalan mungkin bisa”, “sainganku banyak yang lebih mampu dari aku, lebih pintar dari aku” buang jauh-jauh perasaan itu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu kepada siapa kelak keberhasilan itu akan memihak, bukankah keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu jatuh kepada yang paling pintar dan mampu saja? Banyak kok orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, namun tidak bisa di katakan berhasil dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang di dapatnya, tidak bisa mengaplikasikan gelar dan pendidikannya, bukan tidak mungkin karena tidak ada sedikitpun kesungguhan dari dalam hati seseorang itu.
Bilamana sahabat mempunyai cita-cita kuliah keluar negeri, ingin jadi dokter, dan sebagainya namun tidak cukup mampu dalam hal biaya dan materi, otak pas-pasan, itu bukanlah masalah karena setiap manusia di bekali dengan potensi yang bisa di kembangkan, selain itu setiap manusia juga di bekali akal yang mana akal itu kita gunakan untuk menerapkan kesungguhan dan keteguhan kita dalam mengembangkan potensi yang kita miliki itu. Namun dalam hal ini tergantung dari sahabat sendiri yang sanggup menjalankannya secara istiqamah ataukah tidak. Karena kesungguhan itu sendiri juga tidak akan berarti apa-apa jika tidak di sertai dengan keajegan atau konsisten dengan tujuannya.
Kesungguhan merupakan fondasi pokok dalam sebuah bangunan kuat nan kokoh, yang mana bangunan itu menggambarkan jalan atau jalur yang menuntun kita ke arah keberhasilan yang kita mau. Sampai atau tidaknya kita pada arah yang kita mau melalui jalan itu tergantung dari kuat atau tidaknya fondasi yang menopang jalan itu. Bila fondasinya saja setengah-setengah, tidak ada kemantapan atau keajegan maka jalan roboh, jatuhlah kita sewaktu perjalanan. Nah jatuhnya kita itulah yang menggambarkan sikap mudah menyerah, pesimis, dan putus asa kita.
Kesungguhan dalam hal ini juga tidak hanya di praktikkan dengan keuletan, ketekunan dan kerja keras saja melainkan juga doa. Berdoa dan yakinlah bahwasanya Allah sangatlah sanggup mengabulkan doa setiap hamba-hamba-Nya yang mau terus berdoa-dan berikhtiar. Nah coba tengok sabda Rasulullah berikut ini “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, dan Maha Murah Hati, Allah malu bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon) lalu di biarkannya kosong dan kecewa” (H.R. Al Hakim). Namun janganlah tergesa-gesa, bersabar sembari tetap jalankan kesungguhan itu secara istiqamah. Tidak akan ada hal menyenangkan yang bisa di raih seseorang dengan mudahnya tanpa proses dan halangan tertentu, melainkan pasti butuh usaha keras dan juga kesabaran. Dalam Shahih Muslim No. 4016, Abu Hurairah RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “Akan di kabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata aku sudah berdoa, tetapi aku tidak atau belum di kabulkan”.
Saya menyimpan sebuah kisah yang mana kisah itu di alami sendiri oleh sepupu saya. Dia seorang pelajar SMA yang teguh benar memegang prinsip Man Jadda Wajada, dia memiliki sebuah impian besar untuk bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi impiannya, namun apa daya, dia lahir dalam keluarga tak berpunya, tidak bisa di katakan pas-pasan karena bahkan untuk makan sehari-harinya saja masih kurang, dia adalah satu-satunya anak dari keluarganya yang beruntung karena kakak-kakaknya yang tidak bisa merasakan bangku sekolah sampai SMA seperti dirinya, ia bisa sekolah sampai SMA berkat beasiswa tidak mampu. Melihat keadaan orang tua akhirnya mendorongnya untuk belajar lebih giat lagi karena satu-satunya peluang atau jalan yang memungkinkannya untuk bisa masuk perguruan tinggi itu adalah beasiswa prestasi. Hal itu membuatnya sering belajar sampai larut malam, tidak seperti teman-temannya pada umumnya, dia jadi sering menolak ajakan teman untuk keluar rumah.
Selain itu ia juga aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai lomba hingga memungkinkannya mengoleksi banyak piagam dan penghargaan, barangkali dapat membantunya lolos masuk perguruan tinggi impiannya nanti. Tidak lupa juga doa restu ibu karena bukan tidak mungkin doa yang paling mujarab adalah doanya. Tiap malam sudah ia sempatkan tahajud, puasa Senin kamis dan amalan-amalan lain. Tak henti-hentinya ia berdoa hingga membuatnya menjadi anak yang jauh lebih berprestasi dari sebelumnya. Pada akhirnya dia mampu masuk perguruan tinggi impiannya itu dengan beasiswa prestasi total melalui jalur bidik misi. Tentu orang-orang yang dahulu meremehkannya, menanggapi impiannya dengan senyum ejekan jadi tercengang.
Nah mampu atau tidaknya sahabat, berhasil atau tidaknya sahabat bukan di lihat dari sisi kemampuan materi orang tua kita, bukan di lihat dari terbatasnya kemampuan kita, melainkan dari kesungguhan kita itu sendiri, melainkan dari keteguhan hati kita itu sendiri, dan melainkan dari doa kita itu sendiri. Selain itu satu hal yang perlu sahabat garis bawahi, jangan niatkan kesungguhan sahabat itu demi urusan keduniawian saja, melainkan niatkan segalanya semata-mata karena Allah. Karena barang siapa yang menghendaki ukhrawi, maka dapatlah pula duniawinya.
Pepatah ini begitu menjamur di berbagai lembaga keislaman terutama di kalangan pondok-pondok pesantren dan modern, hampir seluruh santri-santrinya di ajarkan untuk selalu berpedoman pada pepatah ini dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan, insya Allah kesuksesan yang di maksud bukan kesuksesan dalam hal keduniawian saja, melainkan juga kesuksesan ukhrawi asalkan pepatah ini benar-benar di terapkan sesuai dengan yang di syariatkan. Pepatah ini menjadi kondang sejak munculnya sebuah novel bertajuk religi karya Ahmad Fuadi dengan judul Negeri Lima Menara, yang mana novel itu benar-benar membumikan pepatah ini sepanjang jalan ceritanya.
Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.
Nah, bagi sahabat yang menyimpan angan-angan, harapan dan mempunyai cita-cita setinggi langit namun tidak memiliki sesuatu yang mendukung untuk bisa meraihnya maka janganlah bersedih, jangan jadikan halangan-halangan itu sebagai alasan bagi sahabat untuk mengandalkan pesimis “ah nggak bakalan mungkin bisa”, “sainganku banyak yang lebih mampu dari aku, lebih pintar dari aku” buang jauh-jauh perasaan itu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu kepada siapa kelak keberhasilan itu akan memihak, bukankah keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu jatuh kepada yang paling pintar dan mampu saja? Banyak kok orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, namun tidak bisa di katakan berhasil dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang di dapatnya, tidak bisa mengaplikasikan gelar dan pendidikannya, bukan tidak mungkin karena tidak ada sedikitpun kesungguhan dari dalam hati seseorang itu.
Bilamana sahabat mempunyai cita-cita kuliah keluar negeri, ingin jadi dokter, dan sebagainya namun tidak cukup mampu dalam hal biaya dan materi, otak pas-pasan, itu bukanlah masalah karena setiap manusia di bekali dengan potensi yang bisa di kembangkan, selain itu setiap manusia juga di bekali akal yang mana akal itu kita gunakan untuk menerapkan kesungguhan dan keteguhan kita dalam mengembangkan potensi yang kita miliki itu. Namun dalam hal ini tergantung dari sahabat sendiri yang sanggup menjalankannya secara istiqamah ataukah tidak. Karena kesungguhan itu sendiri juga tidak akan berarti apa-apa jika tidak di sertai dengan keajegan atau konsisten dengan tujuannya.
Man Jadda Wajada sebuah pepatah Arab yang menjadi kompas perjalanan dalam mencapai impian, angan, dan cita-cita. Sebuah pepatah yang memiliki kekuatan yang sedemikian takjubnya hingga banyak orang-orang muslim percaya dan memegangnya sebagai prinsip dan pedoman, namun bila seseorang teguh benar menelaah secara mendalam pepatah ini. Maka tidaklah jadi prinsip dan pedoman saja, melainkan akan mendarah daging pada hati dan jiwa seseorang itu.
Pepatah ini begitu menjamur di berbagai lembaga keislaman terutama di kalangan pondok-pondok pesantren dan modern, hampir seluruh santri-santrinya di ajarkan untuk selalu berpedoman pada pepatah ini dalam meraih keberhasilan dan kesuksesan, insya Allah kesuksesan yang di maksud bukan kesuksesan dalam hal keduniawian saja, melainkan juga kesuksesan ukhrawi asalkan pepatah ini benar-benar di terapkan sesuai dengan yang di syariatkan. Pepatah ini menjadi kondang sejak munculnya sebuah novel bertajuk religi karya Ahmad Fuadi dengan judul Negeri Lima Menara, yang mana novel itu benar-benar membumikan pepatah ini sepanjang jalan ceritanya.
Bila dilihat dari masing-masing suku kata, kata Man berarti siapa, Jadda berarti bersungguh-sungguh, sementara Wajada berarti berhasil, maka bila di artikan secara keseluruhan, kata Man Jadda Wajada memiliki makna “barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil”. Dari pepatah ini kesungguhan menjadi kata kuncinya atau aspek pokok dalam meraih hajat atau impian seseorang, tanpa kesungguhan ini tentu harapan dan impian itu hanyalah bak kelebat angin yang lewat saja.
Nah, bagi sahabat yang menyimpan angan-angan, harapan dan mempunyai cita-cita setinggi langit namun tidak memiliki sesuatu yang mendukung untuk bisa meraihnya maka janganlah bersedih, jangan jadikan halangan-halangan itu sebagai alasan bagi sahabat untuk mengandalkan pesimis “ah nggak bakalan mungkin bisa”, “sainganku banyak yang lebih mampu dari aku, lebih pintar dari aku” buang jauh-jauh perasaan itu, karena sesungguhnya manusia tidak pernah tahu kepada siapa kelak keberhasilan itu akan memihak, bukankah keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu jatuh kepada yang paling pintar dan mampu saja? Banyak kok orang-orang yang berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, namun tidak bisa di katakan berhasil dalam hidupnya, karena dia tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang di dapatnya, tidak bisa mengaplikasikan gelar dan pendidikannya, bukan tidak mungkin karena tidak ada sedikitpun kesungguhan dari dalam hati seseorang itu.
Bilamana sahabat mempunyai cita-cita kuliah keluar negeri, ingin jadi dokter, dan sebagainya namun tidak cukup mampu dalam hal biaya dan materi, otak pas-pasan, itu bukanlah masalah karena setiap manusia di bekali dengan potensi yang bisa di kembangkan, selain itu setiap manusia juga di bekali akal yang mana akal itu kita gunakan untuk menerapkan kesungguhan dan keteguhan kita dalam mengembangkan potensi yang kita miliki itu. Namun dalam hal ini tergantung dari sahabat sendiri yang sanggup menjalankannya secara istiqamah ataukah tidak. Karena kesungguhan itu sendiri juga tidak akan berarti apa-apa jika tidak di sertai dengan keajegan atau konsisten dengan tujuannya.
Kesungguhan merupakan fondasi pokok dalam sebuah bangunan kuat nan kokoh, yang mana bangunan itu menggambarkan jalan atau jalur yang menuntun kita ke arah keberhasilan yang kita mau. Sampai atau tidaknya kita pada arah yang kita mau melalui jalan itu tergantung dari kuat atau tidaknya fondasi yang menopang jalan itu. Bila fondasinya saja setengah-setengah, tidak ada kemantapan atau keajegan maka jalan roboh, jatuhlah kita sewaktu perjalanan. Nah jatuhnya kita itulah yang menggambarkan sikap mudah menyerah, pesimis, dan putus asa kita.
Kesungguhan dalam hal ini juga tidak hanya di praktikkan dengan keuletan, ketekunan dan kerja keras saja melainkan juga doa. Berdoa dan yakinlah bahwasanya Allah sangatlah sanggup mengabulkan doa setiap hamba-hamba-Nya yang mau terus berdoa-dan berikhtiar. Nah coba tengok sabda Rasulullah berikut ini “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, dan Maha Murah Hati, Allah malu bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon) lalu di biarkannya kosong dan kecewa” (H.R. Al Hakim). Namun janganlah tergesa-gesa, bersabar sembari tetap jalankan kesungguhan itu secara istiqamah. Tidak akan ada hal menyenangkan yang bisa di raih seseorang dengan mudahnya tanpa proses dan halangan tertentu, melainkan pasti butuh usaha keras dan juga kesabaran. Dalam Shahih Muslim No. 4016, Abu Hurairah RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “Akan di kabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata aku sudah berdoa, tetapi aku tidak atau belum di kabulkan”.
Saya menyimpan sebuah kisah yang mana kisah itu di alami sendiri oleh sepupu saya. Dia seorang pelajar SMA yang teguh benar memegang prinsip Man Jadda Wajada, dia memiliki sebuah impian besar untuk bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi impiannya, namun apa daya, dia lahir dalam keluarga tak berpunya, tidak bisa di katakan pas-pasan karena bahkan untuk makan sehari-harinya saja masih kurang, dia adalah satu-satunya anak dari keluarganya yang beruntung karena kakak-kakaknya yang tidak bisa merasakan bangku sekolah sampai SMA seperti dirinya, ia bisa sekolah sampai SMA berkat beasiswa tidak mampu. Melihat keadaan orang tua akhirnya mendorongnya untuk belajar lebih giat lagi karena satu-satunya peluang atau jalan yang memungkinkannya untuk bisa masuk perguruan tinggi itu adalah beasiswa prestasi. Hal itu membuatnya sering belajar sampai larut malam, tidak seperti teman-temannya pada umumnya, dia jadi sering menolak ajakan teman untuk keluar rumah.
Selain itu ia juga aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai lomba hingga memungkinkannya mengoleksi banyak piagam dan penghargaan, barangkali dapat membantunya lolos masuk perguruan tinggi impiannya nanti. Tidak lupa juga doa restu ibu karena bukan tidak mungkin doa yang paling mujarab adalah doanya. Tiap malam sudah ia sempatkan tahajud, puasa Senin kamis dan amalan-amalan lain. Tak henti-hentinya ia berdoa hingga membuatnya menjadi anak yang jauh lebih berprestasi dari sebelumnya. Pada akhirnya dia mampu masuk perguruan tinggi impiannya itu dengan beasiswa prestasi total melalui jalur bidik misi. Tentu orang-orang yang dahulu meremehkannya, menanggapi impiannya dengan senyum ejekan jadi tercengang.
Nah mampu atau tidaknya sahabat, berhasil atau tidaknya sahabat bukan di lihat dari sisi kemampuan materi orang tua kita, bukan di lihat dari terbatasnya kemampuan kita, melainkan dari kesungguhan kita itu sendiri, melainkan dari keteguhan hati kita itu sendiri, dan melainkan dari doa kita itu sendiri. Selain itu satu hal yang perlu sahabat garis bawahi, jangan niatkan kesungguhan sahabat itu demi urusan keduniawian saja, melainkan niatkan segalanya semata-mata karena Allah. Karena barang siapa yang menghendaki ukhrawi, maka dapatlah pula duniawinya.
Hak-Hak Pejabat
Pejabat Bisa Menjadi Pencuri Jika Melebihi Hak Hak seperti Ini
Di masa keemasan Islam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah minta tambah gajinya sebagai khalifah. Ehm…..
Sebelum membahas hal ini, mari kita simak hadits Nabi shalallahu’alaihi wassallam yang resmi memberikan fasilitas bagi para pejabat publik:
“Siapa yang menjadi pejabat kami, maka milikilah istri jika belum punya istri. Jika belum punya pembantu, maka milikilah pembantu. Jika belum punya tempat/rumah, maka milikilah tempat/rumah. Abu Bakar berkata: Aku diberitahu bahwa Nabi bersabda, “Siapa yang mengambil selain itu maka dia adalah pencuri.” (HR. Abu Dawud no. 2945, dishahihkan oleh al-Albani)
Jadi, siapapun Anda sebagai pejabat publik, telah difasilitasi langsung oleh Nabi shalallahu’alaihi wassallam. Luar biasa bukan. Amanah besar seorang pejabat diiringi dengan fasilitas. Sah! Untuk mengambilnya. Halal! Untuk menikmatinya. Pasangan hidup, staf, tempat tinggal.
Nah, sekarang mari kita lihat kisah shahabat paling mulia itu minta tambahan gaji dengan posisinya sebagai orang nomer satu di pemerintahan Islam. Kisahnya ditulis oleh pakar sejarah Islam Prof. DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari dalam bukunya: (‘Ashr al-Khilafah al-Rasyidah h. 228-230). Inilah kalimat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang memakai bahasa langsung dan jelas:
“Tambahi untukku (gajiku) karena aku punya keluarga. Kalian telah menyibukkan aku dari bisnisku.”
Akram Dhiya’ menyebutkan gaji awal Abu Bakar adalah 2000 Dirham setiap tahun. Kemudian setelah beliau meminta tambahan, ditambahi menjadi 2500 Dirham per tahun.
2000 Dirham adalah jumlah gaji yang tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Dan dengan tanpa malu dan basa-basi, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu meminta tambahan. Dalam riwayat yang diambil oleh DR. Ali ash-Shalaby (Abu Bakar ash-Shiddiq, h. 109, MW), Abu Bakar berkata kepada Umar sebagai menteri keadilan/hukum,
“Aku tidak butuh dengan jabatanku memimpin kalian. Kalian memberiku gaji yang tidak cukup untukku dan keluargaku.”
Di samping gaji tersebut, masih ada fasilitas 1 kambing per hari plus sedikit lemak dan susu. Kambing digunakan untuk jamuan para tamu yang datang. Dan keluarga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berhak mendapatkan kepala dan kaki kambing tersebut.
Ternyata yang pernah minta tambahan gaji, bukan hanya Abu Bakar sang Khalifah. Para pejabatnya di daerah juga meminta tambahan gaji:
“Tambahilah gaji kami, kalau tidak angkatlah orang lain untuk jabatan ini!”
Untuk melengkapi cara pandang kita, ada hal yang harus diketahui lagi. Yaitu: masyarakat mendapatkan tunjangan tahunan. Inilah konsep Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu saat memimpin negara yang saat itu belum mempunyai banyak kekayaan negara:
“Sesungguhnya hidup ini, keteladanan lebih baik daripada mementingkan diri sendiri.”
Subhanallah…!
Besaran tunjangan di tahun pertama adalah 10 Dirham/tahun. Pada tahun kedua seiring masukan negara yang semakin besar maka masyarakat mendapatkan 20 Dirham/tahun. Tunjangan ini diperuntukkan bagi semua orang; laki ataupun perempuan, besar ataupun kecil, orang merdeka ataupun budak. Jadi, kalau di dalam rumah tangga kecil ada ayah, ibu dan 3 anak, maka keluarga itu akan mendapatkan 100 dirham/tahun. Para pejabat Abu Bakar pun menerapkan konsep ini di wilayah masing-masing.
Dengan konsep ini, maka gaji Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu 200 kali lipat dari tunjangan satu orang dari masyarakatnya. Perlu diingat ulang, 200 kali lipat dari tunjangan, bukan dari penghasilan masyarakat. Karena, tunjangan tersebut di luar penghasilan masyarakat. Jadi, perbandingannya adalah: Pejabat mendapat gaji ‘besar’ karena tidak bisa mencari nafkah, sementara masyarakat jauh lebih kecil karena sifatnya tambahan bagi tambahan nafkah mereka.
Melihat sebuah kisah dengan utuh seperti di atas sangat bermanfaat agar cara kita mengambil pelajaran tidak bopeng. Dari kalimat tersebut di atas dan dari proses jabatan yang diamanahkan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berikut pejabatnya berikut tunjangan bagi masyarakatnya, kita bisa memandang permintaan tambahan gaji dengan sudut pandang berikut:
Mereka semua dipaksa menjadi pemimpin, bukan keinginan mereka apalagi ambisi dengan mengkampanyekan dirinya. Kalau saja mereka bisa memilih, maka mereka lebih memilih menjadi pengusaha umpamanya, seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sehingga tidak ada yang membatasi keuangannya. Tetapi ketika telah memilih, maka seharusnya semua paham bahwa setiap pilihan ada resikonya.
Mereka terpaksa memberhentikan semua aktifitas mencari nafkah dan hanya mendapat gaji dari menjadi pejabat. Kalau yang mendapatkan banyak proyek justru setelah menjabat, nah….
Gaji yang mereka terima tidak mencukupi kebutuhan mereka dan keluarga. Jika gaji telah memenuhi atau bahkan tidak terpakai, bagaimana nih…
Masyarakat tetap nomer satu. Mendahulukan masyarakatnya, bukan dirinya. Dalam bahasa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu: menjadi teladan, bukan egois.
Jika itu di zaman Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, maka inilah Umar radhiyallahu ‘anhu sang Amirul Mukminin. Umar telah mengetahui fasilitas yang berasal langsung dari Nabi shalallahu’alaihi wassallam bagi para pejabat. Umar juga telah menyaksikan langsung bagaimana Abu Bakar meminta tambahan gajinya.
Umar radhiallahu ‘anhu menyampaikan konsep penggajian bagi dirinya sebagai pemimpin tertinggi:
“Saya memposisikan diri saya terhadap harta Allah (harta negara), seperti menghadapi harta anak yatim. Siapa yang kaya, maka hendaklah menjaga dirinya. Siapa yang miskin, maka boleh memakannya dengan cara baik.” (ashr al-Khilafah al-Rasyidah, h. 238)
Dan inilah detail yang diambil Umar dari negara h. 237-238:
“Saya menyampaikan kepada kalian semua, harta Allah yang saya ambil: pakaian di musim dingin dan musim panas, kendaraan yang saya pakai untuk haji dan umroh, konsumsi bagi keluarga saya seukuran masyarakat Quraisy; bukan yang kaya dan bukan yang miskin. Saya hanya seorang laki-laki dari masyarakat muslimin, apa yang menimpa mereka pun menimpa saya.”
Umar radhiallahu ‘anhu juga berani mempersaksikan dirinya di hadapan Allah subhanahu wata’ala:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidak makan kecuali makanan saya, tidak memakai kecuali pakaian saya dan tidak mengambil kecuali bagian saya.”
Sementara untuk masyarakatnya, Umar melanjutkan konsep tunjangan Abu Bakar dengan beberapa perbaikan. Di antara perbaikan itu adalah jumlah besaran tunjangan yang diberikan, menjadi jauh lebih besar seiring dengan negara yang semakin kaya:
Tunjangan uang tahunan berdasarkan strata yang dibuat oleh Umar. Yang paling tinggi: 12.000 Dirham bagi istri Nabi yang masih hidup dan yang paling rendah adalah 100 Dirham bagi bayi yang baru lahir
Tunjangan barang, bisa berupa pakaian, makanan dan sebagainya
Hal menarik yang perlu dicatat dari sikap empati Umar radhiyallahu ‘anhu saat masyarakat sulit adalah pada peristiwa ‘am Ramadah (tahun kelaparan) yang menimpa Hijaz (Mekah dan Madinah, bukan seluruh negeri) di akhir 17H. Umar sebagai Khalifah tidak mau mengkonsumsi lemak dan His (makanan dari adonan kurma dicampur lemak dan lainnya) karena harganya mencapai 40 Dirham. Umar juga tidak mau meminum susu pada masa itu. Dan hanya mau mengkonsumsi minyak dan gandum saja. Sebagai upaya menghibur masyarakatnya.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Perut Umar bunyi (karena lapar) karena hanya makan minyak pada ‘am ramadhah, sementara dia tidak mau makan lemak. Maka dia menusuk perutnya dengan menggunakan jarinya dan berkata:
Tidak ada yang kami miliki selain ini, hingga manusia hidup kembali. (Tarikh al-Khulafa’ h. 116, MS)
Ibnu Sa’ad meriwayatkan kisah Aslam yang bercerita,
Pada ‘am ramadhah, ada unta disembelih. Maka Umar membagikannya bagi masyarakat. Mereka menyisihkan daging yang bagus dari punuk unta dan hati untuk Umar. Saat Umar melihat, dia bertanya: Dari mana ini? Mereka menjawab: Wahai Amirul Mukminin, itu dari unta yang hari ini kita sembelih. Umar berkata: Buruk sekali saya sebagai pemimpin jika saya makan daging yang bagus sementara saya memberi masyarakat yang tidak bagus. Angkat piring ini, berikan kami makanan selain ini!
Saat seperti itu empati sang pemimpin tertinggi, ternyata diikuti oleh para pejabat di bawahnya.
Dari Ibn as-Sa’idi berkata: aku diangkat Umar sebagai salah seorang pejabatnya mengurusi zakat. Ketika tugasku selesai, Umar memberiku upah. Aku pun berkata: Aku bekerja karena Allah. Umar menjawab: Aku pernah juga bekerja di masa Rasulullah dan beliau pun menggajiku. (HR. Abu Dawud no 1453, dishahihkan al-Albani)
Konsep penggajian pejabat para pemimpin di atas sangat menarik untuk menjadi inspirasi penggajian pejabat hari ini.
Jadi pak pemimpin, masih ada yang mau minta naik gaji?
Di masa keemasan Islam, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah minta tambah gajinya sebagai khalifah. Ehm…..
Sebelum membahas hal ini, mari kita simak hadits Nabi shalallahu’alaihi wassallam yang resmi memberikan fasilitas bagi para pejabat publik:
“Siapa yang menjadi pejabat kami, maka milikilah istri jika belum punya istri. Jika belum punya pembantu, maka milikilah pembantu. Jika belum punya tempat/rumah, maka milikilah tempat/rumah. Abu Bakar berkata: Aku diberitahu bahwa Nabi bersabda, “Siapa yang mengambil selain itu maka dia adalah pencuri.” (HR. Abu Dawud no. 2945, dishahihkan oleh al-Albani)
Jadi, siapapun Anda sebagai pejabat publik, telah difasilitasi langsung oleh Nabi shalallahu’alaihi wassallam. Luar biasa bukan. Amanah besar seorang pejabat diiringi dengan fasilitas. Sah! Untuk mengambilnya. Halal! Untuk menikmatinya. Pasangan hidup, staf, tempat tinggal.
Nah, sekarang mari kita lihat kisah shahabat paling mulia itu minta tambahan gaji dengan posisinya sebagai orang nomer satu di pemerintahan Islam. Kisahnya ditulis oleh pakar sejarah Islam Prof. DR. Akram Dhiya’ al-‘Umari dalam bukunya: (‘Ashr al-Khilafah al-Rasyidah h. 228-230). Inilah kalimat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang memakai bahasa langsung dan jelas:
“Tambahi untukku (gajiku) karena aku punya keluarga. Kalian telah menyibukkan aku dari bisnisku.”
Akram Dhiya’ menyebutkan gaji awal Abu Bakar adalah 2000 Dirham setiap tahun. Kemudian setelah beliau meminta tambahan, ditambahi menjadi 2500 Dirham per tahun.
2000 Dirham adalah jumlah gaji yang tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Dan dengan tanpa malu dan basa-basi, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu meminta tambahan. Dalam riwayat yang diambil oleh DR. Ali ash-Shalaby (Abu Bakar ash-Shiddiq, h. 109, MW), Abu Bakar berkata kepada Umar sebagai menteri keadilan/hukum,
“Aku tidak butuh dengan jabatanku memimpin kalian. Kalian memberiku gaji yang tidak cukup untukku dan keluargaku.”
Di samping gaji tersebut, masih ada fasilitas 1 kambing per hari plus sedikit lemak dan susu. Kambing digunakan untuk jamuan para tamu yang datang. Dan keluarga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berhak mendapatkan kepala dan kaki kambing tersebut.
Ternyata yang pernah minta tambahan gaji, bukan hanya Abu Bakar sang Khalifah. Para pejabatnya di daerah juga meminta tambahan gaji:
“Tambahilah gaji kami, kalau tidak angkatlah orang lain untuk jabatan ini!”
Untuk melengkapi cara pandang kita, ada hal yang harus diketahui lagi. Yaitu: masyarakat mendapatkan tunjangan tahunan. Inilah konsep Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu saat memimpin negara yang saat itu belum mempunyai banyak kekayaan negara:
“Sesungguhnya hidup ini, keteladanan lebih baik daripada mementingkan diri sendiri.”
Subhanallah…!
Besaran tunjangan di tahun pertama adalah 10 Dirham/tahun. Pada tahun kedua seiring masukan negara yang semakin besar maka masyarakat mendapatkan 20 Dirham/tahun. Tunjangan ini diperuntukkan bagi semua orang; laki ataupun perempuan, besar ataupun kecil, orang merdeka ataupun budak. Jadi, kalau di dalam rumah tangga kecil ada ayah, ibu dan 3 anak, maka keluarga itu akan mendapatkan 100 dirham/tahun. Para pejabat Abu Bakar pun menerapkan konsep ini di wilayah masing-masing.
Dengan konsep ini, maka gaji Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu 200 kali lipat dari tunjangan satu orang dari masyarakatnya. Perlu diingat ulang, 200 kali lipat dari tunjangan, bukan dari penghasilan masyarakat. Karena, tunjangan tersebut di luar penghasilan masyarakat. Jadi, perbandingannya adalah: Pejabat mendapat gaji ‘besar’ karena tidak bisa mencari nafkah, sementara masyarakat jauh lebih kecil karena sifatnya tambahan bagi tambahan nafkah mereka.
Melihat sebuah kisah dengan utuh seperti di atas sangat bermanfaat agar cara kita mengambil pelajaran tidak bopeng. Dari kalimat tersebut di atas dan dari proses jabatan yang diamanahkan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berikut pejabatnya berikut tunjangan bagi masyarakatnya, kita bisa memandang permintaan tambahan gaji dengan sudut pandang berikut:
Mereka semua dipaksa menjadi pemimpin, bukan keinginan mereka apalagi ambisi dengan mengkampanyekan dirinya. Kalau saja mereka bisa memilih, maka mereka lebih memilih menjadi pengusaha umpamanya, seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sehingga tidak ada yang membatasi keuangannya. Tetapi ketika telah memilih, maka seharusnya semua paham bahwa setiap pilihan ada resikonya.
Mereka terpaksa memberhentikan semua aktifitas mencari nafkah dan hanya mendapat gaji dari menjadi pejabat. Kalau yang mendapatkan banyak proyek justru setelah menjabat, nah….
Gaji yang mereka terima tidak mencukupi kebutuhan mereka dan keluarga. Jika gaji telah memenuhi atau bahkan tidak terpakai, bagaimana nih…
Masyarakat tetap nomer satu. Mendahulukan masyarakatnya, bukan dirinya. Dalam bahasa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu: menjadi teladan, bukan egois.
Jika itu di zaman Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, maka inilah Umar radhiyallahu ‘anhu sang Amirul Mukminin. Umar telah mengetahui fasilitas yang berasal langsung dari Nabi shalallahu’alaihi wassallam bagi para pejabat. Umar juga telah menyaksikan langsung bagaimana Abu Bakar meminta tambahan gajinya.
Umar radhiallahu ‘anhu menyampaikan konsep penggajian bagi dirinya sebagai pemimpin tertinggi:
“Saya memposisikan diri saya terhadap harta Allah (harta negara), seperti menghadapi harta anak yatim. Siapa yang kaya, maka hendaklah menjaga dirinya. Siapa yang miskin, maka boleh memakannya dengan cara baik.” (ashr al-Khilafah al-Rasyidah, h. 238)
Dan inilah detail yang diambil Umar dari negara h. 237-238:
“Saya menyampaikan kepada kalian semua, harta Allah yang saya ambil: pakaian di musim dingin dan musim panas, kendaraan yang saya pakai untuk haji dan umroh, konsumsi bagi keluarga saya seukuran masyarakat Quraisy; bukan yang kaya dan bukan yang miskin. Saya hanya seorang laki-laki dari masyarakat muslimin, apa yang menimpa mereka pun menimpa saya.”
Umar radhiallahu ‘anhu juga berani mempersaksikan dirinya di hadapan Allah subhanahu wata’ala:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidak makan kecuali makanan saya, tidak memakai kecuali pakaian saya dan tidak mengambil kecuali bagian saya.”
Sementara untuk masyarakatnya, Umar melanjutkan konsep tunjangan Abu Bakar dengan beberapa perbaikan. Di antara perbaikan itu adalah jumlah besaran tunjangan yang diberikan, menjadi jauh lebih besar seiring dengan negara yang semakin kaya:
Tunjangan uang tahunan berdasarkan strata yang dibuat oleh Umar. Yang paling tinggi: 12.000 Dirham bagi istri Nabi yang masih hidup dan yang paling rendah adalah 100 Dirham bagi bayi yang baru lahir
Tunjangan barang, bisa berupa pakaian, makanan dan sebagainya
Hal menarik yang perlu dicatat dari sikap empati Umar radhiyallahu ‘anhu saat masyarakat sulit adalah pada peristiwa ‘am Ramadah (tahun kelaparan) yang menimpa Hijaz (Mekah dan Madinah, bukan seluruh negeri) di akhir 17H. Umar sebagai Khalifah tidak mau mengkonsumsi lemak dan His (makanan dari adonan kurma dicampur lemak dan lainnya) karena harganya mencapai 40 Dirham. Umar juga tidak mau meminum susu pada masa itu. Dan hanya mau mengkonsumsi minyak dan gandum saja. Sebagai upaya menghibur masyarakatnya.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Perut Umar bunyi (karena lapar) karena hanya makan minyak pada ‘am ramadhah, sementara dia tidak mau makan lemak. Maka dia menusuk perutnya dengan menggunakan jarinya dan berkata:
Tidak ada yang kami miliki selain ini, hingga manusia hidup kembali. (Tarikh al-Khulafa’ h. 116, MS)
Ibnu Sa’ad meriwayatkan kisah Aslam yang bercerita,
Pada ‘am ramadhah, ada unta disembelih. Maka Umar membagikannya bagi masyarakat. Mereka menyisihkan daging yang bagus dari punuk unta dan hati untuk Umar. Saat Umar melihat, dia bertanya: Dari mana ini? Mereka menjawab: Wahai Amirul Mukminin, itu dari unta yang hari ini kita sembelih. Umar berkata: Buruk sekali saya sebagai pemimpin jika saya makan daging yang bagus sementara saya memberi masyarakat yang tidak bagus. Angkat piring ini, berikan kami makanan selain ini!
Saat seperti itu empati sang pemimpin tertinggi, ternyata diikuti oleh para pejabat di bawahnya.
Dari Ibn as-Sa’idi berkata: aku diangkat Umar sebagai salah seorang pejabatnya mengurusi zakat. Ketika tugasku selesai, Umar memberiku upah. Aku pun berkata: Aku bekerja karena Allah. Umar menjawab: Aku pernah juga bekerja di masa Rasulullah dan beliau pun menggajiku. (HR. Abu Dawud no 1453, dishahihkan al-Albani)
Konsep penggajian pejabat para pemimpin di atas sangat menarik untuk menjadi inspirasi penggajian pejabat hari ini.
Jadi pak pemimpin, masih ada yang mau minta naik gaji?
Kisah Nabi Ya'kub di Akhir Hayatnya
Nabi Ya’qub As dan Detik-detik Terakhir Kematian
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)
Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.
“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.
“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami, Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.
Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.
Yah, wajar jika Ya’kub As menanyakan itu. Setibanya di Mesir, dia melihat aneka ragam aqidah. Ada yang menyembah api, patung dan hewan-hewan. Wajah-wajah ketuhanan itu yang menyebabkan dirinya prihatin terhadap keselamatan aqidah putra-putranya.
Di Aqidah masyarakat Mesir yang semu dipertuhankan, diabadikan dan dianugerahi sifat-sifat ketuhanan yang kekal. Masyarakat sosial yang terpuruk seperti ini wajib mendapatkan perhatian penuh orang tua.
Orang tua yang baik wajib senantiasa memonitoring aqidah lingkungan masyarakat sekitar dan sejauh mana pengaruhnya terhadap anak. Bukankah tempat abadi orang tua di akhirat juga dipengaruhi oleh sejauh mana tanggung jawab didik orang tua terhadap anak? Bukankah ada orang tua yang sejengkal lagi kakinya akan melangkah masuk surga, tetapi ditarik oleh anak yang terjerumus ke neraka hanya karena orang tua ini melalaikan tanggung jawab didiknya terhada anak?
Ya’qub As menyadari ini sepenuhnya sehingga ia pun mewasiatkan aqidah ketauhidan di atas tikar mautnya untuk yang kesekian kalinya sebelum menutup mata dari pentas dunia.
Ya’qub di wasiat terakhirnya ini seperti mendapat dua buah merpati cantik sekali bidikan. Wasiat ini selain bukti nyata kepedulian Ya’qub as terhadap tugas kenabian yang wajib m
Mewariskan agama Islam yang bertauhid ke generasi-generasi Islam mendatang, ia pun dengan sendirinya menyucikan dirinya dari dusta dan kebohongan orang-orang Yahudi yang mengklaim (keyahudian; istilah penulis) Ya’kub dari mereka.
“Ya, Muhammad (penutup para nabi Allah)! Apakah Anda tidak tahu keyahudian Ya’kub? Apakah Anda lupa pesan keyahudian Ya’kub As yang terakhir kepada putra-putranya? Dia mewasiatkan aqidah Yahudi kepada mereka.” Ejek mereka.
“Wahai Muhammad! Ingatkan mereka dan ingatkan juga umatmu keislaman Ya’kub As dan putra-putranya. Yang diwasiatkan Ya’kub As bukanlah aqidah Yahudi, tetapi Aqidah ketauhidan murni seperti yang diwariskan nabi-nabi Islam sebelumnya, sepeti Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” Jawab Alqur’an dengan lantang dan tegas.
Di samping itu, wasiat ketauhidan ini menegaskan keislaman para nabi Allah SWT yang mendunia kebenarannya. Dari ayat 131-133 Q.S Al-Baqarah kata Islam terulang 4 kali dengan variasi morfologi (perubahan makna yang mengikuti perubahan yang terjadi di kata dasar). Gaya bahasa seperti ini menegaskan hakikat kebenaran Islam sebagai agama yang diridhai Allah, tidak dibatasi waktu dan seperti cahaya yang setiap waktu siap memberi terang kepada siapa saja yang ingin menyinari diri dari kegelapan aqidah-aqidah yang tidak menuhankan Allah Yang Maha Esa.
Inilah kata-kata Islam yang digarisbawahi secara bervariasi dari koleksi ayat-ayat Q.S. Al-Baqarah sebagai salah satu bukti kemegahan Islam yang senantiasa memberi kecemerlangan hidup dari sudut pandang apa pun atau dengan kaca mata waktu apa saja Anda melihatnya:
Keempat kosa kata Islam dengan variasi bentuk masing-masing menyangkal aqidah arab jahiliah yang mengakar dalam adab ketuhanan mereka. Setiap kabilah arab punya agama masing-masing yang terhitung benar dan hak oleh mereka sendiri. Mereka mengaku sebagai umat beragama seperti aqidah agama Ibrahim dan Ya’kub As, meskipun mereka juga tetap menyembah berhala. Yahudi dan Kristen pun mengaku sebagai umat beragama yang mengikuti aqidah nabi-nabi Bani Israil, meskipun praktek aqidah dan ibadah mereka tiap harinya jauh dari kemurnian aqidah ketuhanan nabi-nabi mereka sendiri.
Di akhir penggalan kisah Ya’kub As, saya mengajak para pedamba husnul khatimah untuk memetik hikmah kehidupan seperti yang dibiaskan pesan kematian ayat di atas:
“Ingat dan ingatkan keturunan Anda tauhid murni yang Mengesakan Allah Yang Tiada duanya. Di layar kehidupan Anda, Ya’qub As teladan yang baik. Meskipun keturunannya dari nabi-nabi Allah, tetapi dia tetap mengingat tanggung jawabnya sebagai orang tua yang wajib mewasiatkan aqidah yang bertauhid sepeninggalnya.
Tanggungjawab, tetap tanggung jawab. Aqidah tauhid tetap aqidah tauhid. Jangan sepelekan tanggungjawab sebagai orang tua dan jangan pernah ingin melepaskan diri dari ikatan tauhid yang benar! Yang rugi, mereka yang menyepelekan tanggungjawab ketauhidan terhadap generasi umat mendatang.
Tutuplah lembaran terakhir layar kaca kehidupan dunia Anda dengan meminta putra-putri Anda untuk mengikuti kiblat nabi-nabi Allah SWT yang mengesakan Allah SWT dalam aqidah tauhid yang benar! Ikuti mereka dan jangan pandang sebelah mata!”
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)
Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.
“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.
“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami, Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.
Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.
Yah, wajar jika Ya’kub As menanyakan itu. Setibanya di Mesir, dia melihat aneka ragam aqidah. Ada yang menyembah api, patung dan hewan-hewan. Wajah-wajah ketuhanan itu yang menyebabkan dirinya prihatin terhadap keselamatan aqidah putra-putranya.
Di Aqidah masyarakat Mesir yang semu dipertuhankan, diabadikan dan dianugerahi sifat-sifat ketuhanan yang kekal. Masyarakat sosial yang terpuruk seperti ini wajib mendapatkan perhatian penuh orang tua.
Orang tua yang baik wajib senantiasa memonitoring aqidah lingkungan masyarakat sekitar dan sejauh mana pengaruhnya terhadap anak. Bukankah tempat abadi orang tua di akhirat juga dipengaruhi oleh sejauh mana tanggung jawab didik orang tua terhadap anak? Bukankah ada orang tua yang sejengkal lagi kakinya akan melangkah masuk surga, tetapi ditarik oleh anak yang terjerumus ke neraka hanya karena orang tua ini melalaikan tanggung jawab didiknya terhada anak?
Ya’qub As menyadari ini sepenuhnya sehingga ia pun mewasiatkan aqidah ketauhidan di atas tikar mautnya untuk yang kesekian kalinya sebelum menutup mata dari pentas dunia.
Ya’qub di wasiat terakhirnya ini seperti mendapat dua buah merpati cantik sekali bidikan. Wasiat ini selain bukti nyata kepedulian Ya’qub as terhadap tugas kenabian yang wajib m
Mewariskan agama Islam yang bertauhid ke generasi-generasi Islam mendatang, ia pun dengan sendirinya menyucikan dirinya dari dusta dan kebohongan orang-orang Yahudi yang mengklaim (keyahudian; istilah penulis) Ya’kub dari mereka.
“Ya, Muhammad (penutup para nabi Allah)! Apakah Anda tidak tahu keyahudian Ya’kub? Apakah Anda lupa pesan keyahudian Ya’kub As yang terakhir kepada putra-putranya? Dia mewasiatkan aqidah Yahudi kepada mereka.” Ejek mereka.
“Wahai Muhammad! Ingatkan mereka dan ingatkan juga umatmu keislaman Ya’kub As dan putra-putranya. Yang diwasiatkan Ya’kub As bukanlah aqidah Yahudi, tetapi Aqidah ketauhidan murni seperti yang diwariskan nabi-nabi Islam sebelumnya, sepeti Ibrahim, Ismail dan Ishaq.” Jawab Alqur’an dengan lantang dan tegas.
Di samping itu, wasiat ketauhidan ini menegaskan keislaman para nabi Allah SWT yang mendunia kebenarannya. Dari ayat 131-133 Q.S Al-Baqarah kata Islam terulang 4 kali dengan variasi morfologi (perubahan makna yang mengikuti perubahan yang terjadi di kata dasar). Gaya bahasa seperti ini menegaskan hakikat kebenaran Islam sebagai agama yang diridhai Allah, tidak dibatasi waktu dan seperti cahaya yang setiap waktu siap memberi terang kepada siapa saja yang ingin menyinari diri dari kegelapan aqidah-aqidah yang tidak menuhankan Allah Yang Maha Esa.
Inilah kata-kata Islam yang digarisbawahi secara bervariasi dari koleksi ayat-ayat Q.S. Al-Baqarah sebagai salah satu bukti kemegahan Islam yang senantiasa memberi kecemerlangan hidup dari sudut pandang apa pun atau dengan kaca mata waktu apa saja Anda melihatnya:
Keempat kosa kata Islam dengan variasi bentuk masing-masing menyangkal aqidah arab jahiliah yang mengakar dalam adab ketuhanan mereka. Setiap kabilah arab punya agama masing-masing yang terhitung benar dan hak oleh mereka sendiri. Mereka mengaku sebagai umat beragama seperti aqidah agama Ibrahim dan Ya’kub As, meskipun mereka juga tetap menyembah berhala. Yahudi dan Kristen pun mengaku sebagai umat beragama yang mengikuti aqidah nabi-nabi Bani Israil, meskipun praktek aqidah dan ibadah mereka tiap harinya jauh dari kemurnian aqidah ketuhanan nabi-nabi mereka sendiri.
Di akhir penggalan kisah Ya’kub As, saya mengajak para pedamba husnul khatimah untuk memetik hikmah kehidupan seperti yang dibiaskan pesan kematian ayat di atas:
“Ingat dan ingatkan keturunan Anda tauhid murni yang Mengesakan Allah Yang Tiada duanya. Di layar kehidupan Anda, Ya’qub As teladan yang baik. Meskipun keturunannya dari nabi-nabi Allah, tetapi dia tetap mengingat tanggung jawabnya sebagai orang tua yang wajib mewasiatkan aqidah yang bertauhid sepeninggalnya.
Tanggungjawab, tetap tanggung jawab. Aqidah tauhid tetap aqidah tauhid. Jangan sepelekan tanggungjawab sebagai orang tua dan jangan pernah ingin melepaskan diri dari ikatan tauhid yang benar! Yang rugi, mereka yang menyepelekan tanggungjawab ketauhidan terhadap generasi umat mendatang.
Tutuplah lembaran terakhir layar kaca kehidupan dunia Anda dengan meminta putra-putri Anda untuk mengikuti kiblat nabi-nabi Allah SWT yang mengesakan Allah SWT dalam aqidah tauhid yang benar! Ikuti mereka dan jangan pandang sebelah mata!”
Belajat Sejarah Melalui Surah Al-Fatihah
Perintah Belajar Sejarah dalam Surat Al-Fatihah
Adityanugroho – Minggu, 17 Mei 2015 12:10 WIB
Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur’an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.
Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1] : 6)
Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah:
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;
Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
Kelompok yang dimurkai Allah
Kelompok yang sesat
Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut.
Kelompok pertama, generasi yang merasakan nikmat Allah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70,
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa [4] : 69-70)
“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.”
Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini.
Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal.
Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan.
Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya.
Kelompok kedua, mereka yang dimurkai Allah.
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai.
Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman.
Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka.
“Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian….” kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil.
Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur’an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak.
Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya.
Kelompok ketiga, mereka yang sesat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan.
Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal.
Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.
Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9] : 31)
Kisah’ Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas,
Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu.Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani)
Bagaimanakah mereka masyarakat nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan petadaban dunia?
Semuanya dicatat oleh sejarah.
Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita.
Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan.
Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting kita memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini.
Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita;
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7)
Adityanugroho – Minggu, 17 Mei 2015 12:10 WIB
Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur’an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.
Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1] : 6)
Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah:
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;
Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
Kelompok yang dimurkai Allah
Kelompok yang sesat
Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut.
Kelompok pertama, generasi yang merasakan nikmat Allah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70,
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa [4] : 69-70)
“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.”
Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini.
Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal.
Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan.
Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya.
Kelompok kedua, mereka yang dimurkai Allah.
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai.
Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman.
Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka.
“Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian….” kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil.
Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur’an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak.
Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya.
Kelompok ketiga, mereka yang sesat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan.
Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal.
Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.
Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9] : 31)
Kisah’ Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas,
Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu.Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani)
Bagaimanakah mereka masyarakat nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan petadaban dunia?
Semuanya dicatat oleh sejarah.
Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita.
Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan.
Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting kita memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini.
Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita;
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7)
Subscribe to:
Posts (Atom)






